Wednesday, September 16, 2015

Darah perawan rara



Cerita ini bermula waktu jumat malam sabtu sekitar jam setengah 12 malam. Tiba-tiba aku menerima telepon dari Rara, teman kuliahku dulu. Udah lama aku gak denger kabar dari. Dulu aku sering jalan bareng sama dia dan anak-anak dari jakarta. Biasalah, waktu di kampus kan kita primodial banget
Tapi gak ada ruginya temenan sama Rara kok, orangnya cantik, tinggi semampai, body aduhai dan yang terakhir yang aku suka banget dari Rara adalah rambutnya. Dari awal kuliah sampe selesai rambut Rara yang hitam legam itu selalu panjang. Apalagi kalau ditata sedikit menggelung, hmmm... aku selalu nganggep dia barbie doll banget

"Halo Ra ? ada apa nih, tumben nelpon aku. Malem-malem lagi !" tanyaku.
"Yan, bisa jemput aku di XXX gak ?" tanyanya sambil menyebut salah satu tempat hiburan malam yang cukup ternama di kota bandung. "Ha ? Kamu ada di Bandung ? Bukannya kamu di jakarta ? Terakhir aku denger kamu dah kerja di Jakarta ?" tanyaku heran, ngapain malem-malem Rara tiba-tiba ada di Bandung. "Yan ceritanya entar aja deh, sekarang please jemput aku. Dah malem banget nih" rajuk Rara padaku sedikit memelas. "Ok deh, kamu tunggu sebentar, aku jemput sekarang, 10-15 menit deh" jawabku. Kemudian aku bersiap-siap mengeluarkan mobil untuk menjemput Rara. Dalam perjalanan pikirannku penuh dengan pertanyaan. Pertanyaan terbesar tetap saja, ngapain Rara melem-malem ada tempat hiburan malam di Bandung, sendirian lagi. Yang lebih aneh kenapa minta jemput sama aku ? makin aneh ! Sesampainya di tempat hiburan malam tersebut, aku memarkir mobilku. Setelah turun, aku segera menemukan Rara sedang berdiri di pintu masuk. Kondisinya agak aneh. "Halo Ra ! Sendirian ?" tanyaku. "Iya Yan.." jawabnya lemah. Matanya kelihatan merah sekali. "Ra, kenapa nih ada disini ? Hmm.. sorry ya, kamu mabuk ya ?" tanyaku menyelidik. "Yan bisa kita berangkat sekarang gak ? gak enak nih diliatin sama orang-orang" ajaknya. Aku melihat sekeliling, memang sih beberapa security dan pengunjung yang baru datang memperhatikan kita dengan tatapan aneh. "Oke deh, ayo. Mobilku kesebelah sana." ajakku ke Rara untuk naik ke mobil. Setelah menghidupkan mobil dan mengemudikan keluar areal parkir, aku bertanya ke Rara "Mau kemana nih Ra ?" tanyaku. "Kemana aja deh Yan" jawab rara yang duduk disebelahku. "Kamu nginep dimana ?" tanyaku. "Belom punya tempat nginep" jawabnya singkat. "Loh, gimana sih. Dah malem banget loh Ra, aku anter cari hotel ya" tawarku. "Yan aku boleh nginep tempat kamu gak. Semalem aja, aku lagi butuh ditemenin nih" pintanya. "Kamu gak pa-pa nginep ditempat aku ? Rumah kontrakan aku kecil loh, berantakan lagi. Biasa, rumah bujangan" jawabku sambil tersenyum. "Aku dah tahu kamu emang berantakan dari dulu" jawabnya tersenyum kecil. Akhirnya dia tersenyum juga "Ya udah kita pulang aja ya, kayaknya kamu juga dah cape banget." ajakku. "Dari Jakarta kapan ?" tanyaku. "Tadi sore" jawab Rara. "Jadi dari jakarta kamu langsung ke xxx ?" tanyaku heran. Dia cuma tersenyum kecil. Dasar nakal ! "Sorry nih Ra, kamu lagi ada masalah ya ?" tanyaku. Dia terdiam sejenak, kemudian menjawab "Ya gitu deh." jawabnya. "Boleh aku tau gak masalahnya sampe kamu jadi kayak gini" tanyaku lagi. "Yan boleh gak nanya dulu gak ? Please..." pintanya. "Aku cuma butuh ditemenin sekarang, tapi janji aku ceritain, kamu kan orang yang jadi repot gara-gara masalahku ini" lanjut Rara. "OK deh, kalo kamu lagi gak pengen ngomongin, aku gak bakal nanya lagi" jawabku. Sesampainya dirumahku, ternyata Rara gak ada persiapan apa-apa untuk pergi ke bandung, dia cuma membawa tas kecil yang berisi dompet dan peralatan kosmetik. "Ra pake bajuku aja deh, baju kamu kan dah kotor dipake perjalanan" kataku sambil memberi Rara bajuku yang paling kecil dan celana pendek berkaret. "Ok deh" jawabnya menerima baju tersebut. Kemudian Rara masuk kekamar mandi membersihkan badan dan berganti pakaian. Sementara aku membersihkan kamarku untuk ditempati Rara dan aku menggelar kasur di ruang tamu untuk tempat aku tidur. Aku memang punya kasur cadangan untuk persiapan kalo ada keluarga ato teman yang mau manginap. "Ra kamu tidur di kamar aku aja ya, tuh aku dah siapin" kataku ke Rara. "Aduh sorry Rian, aku jadi ngerepotin banget" katanya. "Trus kamu dimana ?" tanya Rara. "Tuh di ruang tamu, aku punya kasur cadangan kok" jawabku. "Kamu dah makan malem ?" tanyaku. "Udah, pake beberapa gelas bir" jawabnya sambil ketawa. "Dasar kamu... Ya udah aku punya french fries sama nugget, mau aku gorengin gak ?" tawarku. "Bolehlah, dari pada gak ada apa-apa" jawabnya sambil tertawa kecil. Akhirnya aku memasakkan dia kentang goreng, nugget dan sosis, emang cuma ada itu di kulkasku. Aku juga membuatkan dia teh hangat. Setelah makan dan minum, terlihat Rara agak segaran dikit. "Ya udah Ra, kamu tidur aja sekarang, udah jam setengah 2 nih" kataku. "Lagian aku juga dah ngantuk banget" lanjutku. "OK deh" jawab Rara yang kemudian beranjak masuk ke kamar, sebelum masuk dia sempat ngelambain tangan ke aku sambil tersenyum. Dasar nih orang, ngerepotin tanpa perasaan Kemudian aku rebahan di kasur dan menyalakan televisi. Tv memang ada di ruang tamuku. Aku mengecilkan suaranya supaya tidak mengganggu Rara. Walaupun aku dah ngantuk, tapi susah sekali aku memejamkan mata. Sekitar 15 menit kemudian, Rara keluar dari kamar an menghampiri aku. "Ada apa Ra ? butuh sesuatu ?" tanyaku. Rara cuma diam tapi kemudian rebahan disampingku, bahkan dia menarik selimut yang aku pakai supaya dia kebagian. "Kan aku dah bilang yan, aku lagi butuh ditemenin. Aku boleh tiduran disini gak ? Aku masih pengen ngobrol-ngobrol dulu sama kamu" kata Rara. "Tapi Ra, kita kan beda" jawabku. "Beda gimana ?" tanya Rara yang sudah rebahan disebelahku. "Ya kamu kan cewek, aku cowok, trus kita dah sama-sama dewasa, apa kamu gak takut" tanyaku. "Hmmm.. masa sih kamu mo nyakitin aku ? Setau aku dari dulu kamu kan baik sama aku Yan." jawab Rara. Aku cuma menarik nafas, pikirku mungkin aku baik sama dia, tapi kan aku juga cowok biasa, mana ada cowok yang gak pusing ada cewek cantik tidur disebelahnya "Ya terserah kamu aja sih, walau menurutku agak aneh. Tapi berhubung kamu sedikit mabuk wajarlah" kataku. Rara cuma tersenyum kecil. "Ra, ngapain kamu ada di Bandung, trus dari sekian banyak orang di bandung kenapa sih kamu minta aku yang jemput ?" tanyaku. "Gak tau Yan. Dipikiranku cuma ada kamu yang bisa aku percaya dan aku repotin" jawabnya. Aku tersenyum kecil, sialan nih cewek, di baikin malah manfaatin. "Inget waktu kuliah dulu ga yan, kamu kan bantu aku terus" lanjut Rara. Aku terdiam mengingat masa lalu, memang sih Rara dulu gak semangat banget kuliahnya, kalo gak dibantu mungkin gak selesai. "Inget waktu skripsiku dulu gak ? Kan kamu banyak banget bantu aku" lanjut Rara. "Kayaknya aku gak bantuin deh, tapi ngebuatin" jawabku sambil tertawa. "Ye... tapi kan aku dah bayar pake makan-makan" jawab Rara sambil memukul lenganku. "Masa sih bayarnya cuma makan-makan" jawabku sambil terus tertawa. "Jadi dulu gak iklas nih" tanya Rara cemberut. "Ya iklas lah, namanya juga temen" jawabku. kami berdua tertawa. "Ra, seinget aku, kamu dulu cewek baik-baik banget deh. Walau kamu trendi abis, selalu gaya, tapi gak pernah aneh-aneh. Tapi coba liat sekarang, tiba-tiba dateng ke bandung, mabok, trus nginep di tempat cowok lagi" kataku. Rara cuma terdiam sambil memandangi cincin yang dipakai di jari manisnya. Kemudian dia melepas cincin itu dan meletakkannya di lantai. "Ini gara-gara tunangan gue yan" kata Rara lirih. "Jadi kamu dah tunangan ?" tanyaku. Rara cuma mengangguk kecil. "Dulu.." jawabnya singkat. "Kok dulu ?" tanyaku heran. "Sampe siang tadi sih yan. Hari ini kan libur, maksud aku sih mau istirahat aja dirumah. Tapi tiba-tiba tunanganku dateng sama seorang cewek. Dia mo mutusin tunangan kita. Dia mo nikah sama cewek itu minggu depan yan, cewek itu dah hamil" kata Rara sambil terisak. "Oh gitu" jawabku prihatin. "Masalahnya dia udah ngelamar aku yan, tanggal pernikahan juga udah ditentuin, persiapan juga udah dimulai" lanjut Rara dengan tangisnya yang menjadi. "Mau bilang apa coba aku sama keluargaku Yan, aku malu banget" lanjut Rara menangis. "Ya mo gimana lagi Ra, masalahnya emang berat banget" kataku kemudian memeluk dia. Lama sekali Rara menagis dipelukanku. Aku gak bisa banyak komentar, emang masalahnya pelik banget sih. Setelah tangis reda, pelukan kami lepaskan, aku dan rara rebahan saling bersisian kembali. "Mungkin emang dia bukan jodoh kamu Ra." kataku ke Rara. "Iy sih, tapi masa sih dia ninggalin aku gitu aja" jawab Rara. "Abis mo gimana lagi Ra ? Anak yang dalam kandungan cewek itu gimana ? Kan harus ada yang tanggung jawab" jawabku. "Kalo misalnya kamu maksain nikah sama dia, apa kamu mau seumur hidup tersiksa mengingat cowok yang kamu nikain ternyata gak bertanggung jawab sama darah dagingnya sendiri" "Iya juga sih. Kalo aku jadi cewek itu, aku pasti juga nuntut tanggung jawab" kata Rara. "Ya masih untung lah mantan tunangan kamu masih mau tanggung jawab" kataku. "Sebenernya dia dulu pernah minta ML sama aku, tapi aku tolak Yan. Mungkin kalo dulu aku kasih enggak jadi begini kejadiannya" kata Rara blak-blakkan. "Walaupun demikian Ra, menurut aku gak bisa jadi alasan terus dia selingkuh dan ngehamilin cewek laen" Kataku. "Dasar cowok, kenapa sih pikirannya seks melulu" kata Rara sedikit meninggi. "Emang tuh, makanya aku gak mau pacaran sama cowok" jawabku sambil tertawa. Rara ikutan tertawa. "Rian, kamu dah pernah ML gak ?" tanya Rara menyelidik. Aku cuma tersenyum kecil. "Kok gak jawab ? dah pernah ya ?" tanya Rara dengan sangat ingin tau. "Tuh kan diem aja, berarti dah pernah. Dasar cowok sama aja, pikirannya gak jauh-jauh dari selangkangan" kata Rara sambil memukuli dadaku. "Ya walaupun dah pernah tapi aku kan gak ngelingkuhin tunanganku dan ngehamilin cewek laen" jawabku menggoda Rara sambil tertawa. "Sama aja, dasar cowok. Brengsek semua" kata Rara sambil mengubah posisi yang awalnya menghadapku menjadi menghadap keatas. Aku masih tertawa. "Yan emang ML enak banget ya, kok banyak banget sih yang belom nikah tapi dah ML, sampe hamil lagi" tanya Rara. "Enggak Ra, ML sakit banget, makanya aku gak mau lagi" jawabku becanda. Rara mencubit pinggangku. "Ihh... ditanya serius malah becanda" kata Rara. "Abis kamu pake nanya sih. Ya pasti enak lah, kalo enggak kenapa semua orang pengen ML dan jadi ketagihan lagi" Kataku. "Mungkin kalo ML gak enak manusia udah punah kali. Gak ada yang mau punya anak kalo MLnya ga enak ato sakit" kataku bercanda. Rara cuma ketawa kecil. "Emang enaknya kayak gimana sih" tanya Rara. Aku terdiam sejenak. "Gimana ya Ra, aku susah untuk neranginnya, tapi emang ML kegiatan paling enak dari semua kegiatan. Entar kamu juga ngerti kok kalo udah ngalamin" jawabku. "Hmm... enaknya kayak coklat gak ?" tanya Rara semakin aneh "Gimana ya Ra, kalo kita makan coklat kan rasa enaknya konstan, sebanyak yang elo makan ya enaknya kayak gitu aja. Tapi kalo ML enaknya ada tahapannya. jadi enaknya berubah-ubah tergantung tahapnya, kayak ada sesuatu yang dituju, ya orgasme itu" jawabku. "Emang orgasme itu kayak apa sih ?" tanya Rara lagi. "Aku gak ngerti orgasme cewek ya, tapi kalo dicowok sih orgasme biasanya barengan sama keluarnya sperma. Dicewek kayaknya sih mirip, abis kalo cewek udah orgasme biasanya vaginanya banjir lendir" jawabku. "Gitu aja ?" tanya Rara. "Ya enggak lah" jawabku. "Kalo dah orgasme badan rasanya rileks banget, kaya diawang-awang gitu deh sangking enaknya". lanjutku. "Jadi mau.." kata rara dengan muka pengen. Aku mendorong jidat Rara sambil berkata "Udah tidur sana, pikiran kamu dah kacau tuh", walaupun sebenarnya aku juga jadi mau "Tapi bener Yan, aku jadi mau. Kamu mau gak ?" tanya Rara. Aku cuma diam. "Kenapa Yan, aku kurang cantik ya ? ato aku kurang seksi sampe kamu gak mau ?" tanya Rara. "Bukan begitu Ra. Kamu tuh lagi mabok, belom sadar bener. Pikiran kamu jadi kacau. Mendingan kita tidur aja deh, dari pada ngelakuin sesuatu yang mungkin nanti kita seselin besok pagi." kataku. Rara mengangguk kecil. "Ya udah, kita tidur. Tapi sebelum tidur aku boleh peluk kamu gak ? Sekali aja.." tanya Rara. Aku memandangi Rara kemudian memeluknya. Rara melingkarkan tangannya dileherku sedang aku memeluk pinggang langsing Rara. Paha Rara menjepit pahaku diselangkangannya. "Ma kasih ya Yan, kamu selalu bantu aku kalo aku ada masalah" kata Rara. "Iya, iya, sekarang kamu tidur istirahat, biar pikiran kamu tenang besok" kataku sambil mengelus-elus rambutnya. Kemudian aku mengecup kening Rara. Pelukan Rara makin erat, aku melanjutkan mengelus-elus rambutnya, kadang aku mengelus punggungnya. "Yan cium lagi dong" kata Rara. Aku mengecup keningnya lagi. "Bukan disitu" kata Rara lagi. "Disini ?" kataku sambil menunjuk pipinya, kemudian aku mengecup pipi yang merona merah itu. "Bukan disitu" kata Rara lagi sambil menutup mata dan memajukan bibirnya. Wah si Rara bener-bener menguji imanku. Sebenarnya aku dah nafsu banget dari tadi, tapi dalam hatiku aku gak mau manfaatin cewek yang lagi gak 100% sadar. Aku kecup bibirnya. Tapi setelah kukecup Rara masih menutup mata dan menyorongkan bibirnya ke aku. Aku kecup sekali lagi, kali ini agak lama. Rara bereaksi dengan ikut menghisap bibirku. Aku lepas ciumanku, kemudian aku memandang Rara yang sedang melihatku dengan penuh harap. Well... wtf lah, aku gak peduli lagi, akhirnya aku cium Rara dengan buas. Aku mencium Rara dengan menghisap bibir bawahnya, Rara membalasnya dengan menghisap bibir bawahku. Kadang-kadang aku masukkan lidahku ke mulutnya. Awalnya Rara gak bereaksi, tapi lama-lama saat lidahku masuk dia menghisap kencang, kadang-kadang Rara gantian memasukkan lidahnya kemulutku. Selama ciuman, aku mengelus rambut Rara, kemudian elusanku turun ke punggungnya, turun lagi ke pinggangnya. Kemudian aku memberanikan diri untuk meremas pantatnya. Rara melenguh kecil "Uhh...." sambil menekan selangkangannya kearah selangkanganku. Setelah beberapa kali mengelus bagian belakang sampai meremas pantatnya, aku meremas dadanya. Hmmm... payudara Rara mantap sekali. Besar sekali dibandingkan dengan tubuhnya. "Hmm... Hgmmm.. Hgmmm" lenguh rara karena payudaranya diremas-remas olehku, dengan tidak melepaskan ciumannya. Birahi memuncak saat meremas-remas sepasang daging kenyal Rara. Kemudian aku mengelus punggung rara kembali. Kali ini aku masukkan tanganku kedalam kausnya dan mengelus punggungnya langsung dikulit. Shit, ternyata Rara tidak pakai bra, pantas saja tadi waktu payudaranya aku remas dari luar terasa kenya sekali. Saat aku mengelus-elus punggungnya, aku elus juga bagian samping tubuhnya sehingga panggkal payudara ikut terelus. Sepertinya Rara sangat menikmati elusanku, kemudian dia memagang tanganku dan mengarahkan tanganku agar meremas-remas payudaranya. Gila, asik banget payudaranya. Payudaranya mancung kedepan dengan pentil yang besar ! Aku sangat menikmati meremas-remas payudara Rara, terkadang aku memainkan pentilnya. Sepertinya Rara juga sangat menikmatinya, tubuhnya bergetar sambil mengeluarkan lenguhan-lenguhan kecil "Uggrhh....ugrh...." Pahaku yang dijepit diantara selangkangan sengaja aku gesek-gesekkan ke memeknya supaya Rara makin terangsang. Rara meresponnya dengan ikut menekan-nekan memeknya lebih kuat ke pahaku. Kalau aku berhenti menggesekkan pahaku, maka Rara menggerak-gerakkan sendiri pinggulnya. Tangan kananku kembali meremas pantat Rara. Kali ini aku masukkan tanganku ke celananya. Berhubung dia pakai celana berkaret, aku dengan mudah memasukkan tanganku. Ternyata Rara juga tidak memakai celana dalam. Aku dengan mudah meremas pantat bulat itu. Setiap aku meremas pantatnya, Rara makin menekan memeknya ke pahaku. Aku mencoba untuk memegang memeknya dari belakang. Saat tersentuk, tubuh Rara seperti tersetrum, sambil melenguh "Uhh....". Hmmm... ternyata Rara benar-benar terangsang, memeknya sudah sangat basah. Sekarang aku memegang memeknya dari depan. Dan mulai mengelus-elus bibir luar memek Rara yang sudah banjir itu. Rara melepaskan ciumanku. Sekarang setiap aku menggosok bibir luar vaginanya, rara memekik kencang "Ohgh....Ohgh.... Ohgh.....". "Enak yan, enak banget. Kamu ngapain aku, kok enak banget sih" kata rara sambil merem melek. Dengan jari tengahku aku mencari klentitnya, kemudian aku usap perlahan. "Akhhh..." teriak Rara saat klentitnya aku usap. Kemudian Rara menahan tanganku, sepertinya dia tidak kuat kalau klentitnya diusap terus. Akhirnya aku telentangkan Rara. Kemudian aku membuka kaos yang dikenakan Rara sehingga Rara 1/2 bugil sekarang. Aku buka paha Rara lebar-lebar dan aku tempatkan tubuhku diantara selangkangannya. Sasaranku berikutnya adalah payudaranya. Sekarang aku menjilati pentil payudara kanannya. Tubuh Rara begerak-gerak keenakan, sepertinya dia suka sekali aku menjilati dan menghisap-hisap pentilnya. Kadang Rara menyatukan kedua payudaranya agar lebih maju. Aku berhenti sebentar, memandangi Rara. Sebenarnya aku ingin sekali membuka celana Rara dan menusuk-nusuk memeknya dengan penisku. Tapi aku sedikit ragu. "Yan, setubuhin aku dong, aku dah gak tahan nih" kata Rara sambil memandangku penuh harap. Perkataan Rara seperti menghapus keraguanku entah kemana. Aku menari celana Rara dengan mudah, apalagi Rara membantu dengan mengangkat pantatnya. Kemudian aku berdiri, membuka kaos dan celanaku, shinga sekarang aku dan Rara sama-sama bugil. Sesaat aku memandang tubuh Rara. Badannya yang langsing tinggi dibalut dengan kulit putih mulus, ditambah payudara besar didadanya. Kakinya yang panjang dan jenjang memiliki betis seperti bulis padi. Aku ternganga sesaat apalagi saat melihat vaginanya yang diliputi bulu hitam titis diantara pahanya yang sudah terbuka lebar. "Kok cuma diliatin ?" tanya rara. Aku terseyum kemudian menempatkan tubuhku diantara selangkangannya. AKu cium Rara sekali lagi, dia membalasnya dengan cukup buas, kemudian ciumanku turun ke payudara besarnya. Aku cuma mau memastikan Rara cukup terangsang sebelum aku menembus memek perawannya. Sat mencium penisku menggesek-gesek memeknya walaupun belum masuk. Aku posisikan tubuhku dan menuntun penisku ke memeknya. "Ra, pertamanya sakit, tapi entar enak kok" kataku. "Iya yan gue juga sering denger". jawab Rara. Aku mulai mendorong penisku kedalam memek Rara. Rara hanya memandangku sambil menggigit bibirnya. Saat penisku sudah masuk 1/2 Rar memekik "AKhh...sakit yan" . Aku berhentikan sebentar penisku. Setelah selang beberapa saat aku goyang sedikit penisku kemudian aku dorong lagi sampai full. "Aduh yan sakit banget" kata Rara memelas. "Tenang Ra, paling sakitnya sebentar, nanti juga enak" kataku menenangkan. "Enggak Yan, sakit banget, bisa elo cabut dulu gak" pinta Rara sambil menahan sakit. Aku juga gak tega melihatnya akhirnya aku cabut penisku. Saat dicabut penisku diselimuti darah perawan Rara. Dari vaginanya juga aku melihat darah mengalir. Hmmm... memang lebih banyak daripada darah perawan yang pernah aku liat. "Yan kok berdarah sih ?" tanya Rara panik. "Itu namanya darah perawan sayang. Selaput dara kamu dah pecah" jawabku. "Aku mo kekamar mandi dulu yan, mo bersihin dulu" kata Rara. Aku mengantarkan Rara kekamar mandi dan menungguinya dari luar, untuk memastikan Rara gak apa-apa. Setelah Rara keluar dari kamar mandi, vaginanya sudah bersih. Tapi nafsuku sudah turun, sepertinya nafsu Rara juga sudah turun. Akhirnya kami hanya rebahan saling berdampingan, masih bugil. "Yan kok sakit banget ya" tanya Rara. "Iya lah Ra, itu kan pertama kalinya kamu, memek kamu masih sempit ditambah ada selaput dara" jawabku. "Masih mau lanjut gak Ra ?" tanyaku pada Rara. "Mau yan, tapi pelan-pelan ya" jawab rara. Akhirnya Aku tempatkan tubuhku diatas tubuhnya lagi. Aku mulai menciumi tubuh rara. Dari bibirnya, pipi, leher dan payudaranya. Aku seperti gak puas-puas menciumi dan menjilati tubuh mulus yang masih sekel itu. Kadang tanganku mengelus memeknya. Aku memang tidak berencana mencium vaginanya, takutnya dia shock dan merasa jijik, bisa batal orgasme malam ini Setelah Rara sudah cukup terangsang, aku arahkan penisku ke vaginanya. Kali ini Rara tidak terlihat tegang seperti waktu yang pertama. Aku dorong penisku masuk. "Heghh..heghmm..." lenguh Rara saat penisku masuk. Kali ini vaginanya tidak terlalu sulit dipenestrasi, mungkin karena tidak tegang sehingga cairan vaginanya cukup. Aku dorong penisku sampai mentok. Aku melihat ada sediki darah mengalir dari vaginanya, mungkin sisa selaput daranya masih ada yang belum pecah. Aku goyang perlahan penisku, tubuh Rara terguncang sedikit, rara masih menggigit bibirnya. Goyanganku aku percepat sedikit, nikmat sekali memek Rara. Sangking sempitnya serasa penisku terhisap kuat oleh vaginanya. Aku percepat goyanganku, sekarang Rara mulai melenguh, "Akh...Akh...Akhhh..." seirama dengan keluar masuknya penisku di vaginanya. "Lagi yan..Lagi yan..Lagi" desahnya sambil memegangi pantatku seakan ingin menekannya terus. "Gila Ra, memek kamu enak banget, sempit banget". kataku. "Penis kamu juga keras banget yan, enak..." jawab Rara disela-sela lenguhannya. Aku memang tidak berniat untuk memakai gaya lain. Untuk pertama kalinya Rara cukup pakai gaya konvensional, laki-laki diatas. Dengan demikian aku bisa ngontrol tusukan penisku kedalam memeknya. Aku tusuk perlahan memek Rara, kadang aku percepat. Kadang aku berhenti sesaat kemudian aku tusuk dengan keras. Kadang aku tusuk kearah samping. Tiba-tiba tubuh Rara sedikit menegang, sepertinya dia ingin orgasme. Aku percepat goyanganku, soalnya aku mau orgasme sama-sama. Kalo sama yang perawan kadang gak mau terus kalo dia udah orgasme, cepek katanya. "Ahhh...Akhh....Aghkhh.." pekikan Rara makin keras seiring dengan makin cepatnya tusukan penisku. "Lagi sayang...lagi...lagi.." pekik Rara. Akupun merasa aku sedikit lagi akan orgasme. Tiba-tiba tubuh rara menegang dan terguncang hebat sambil berteriak "AKHHHH...." rara mendekapku erat dan melingkarkan kakinya di tubuhku, Aku pun sudah tidak kuat lagi, tapi aku gak bisa melepaskan tubuhku dari Rara. Akhirnya aku nekat, aku tekan penisku dalam-dalam dan aku tembakkan spermaku ke rahim Rara 5 atau 6 kali. Aku puas sekali menggagahi Rara komplit, dari merawanin sampai orgasme didalam memeknya. Setelah beberapa lama akhirnya penisku mengecil dan rara melepaskan dekapannya. "Gila enak banget, pantes banyak yang ketagihan" Kata rara setelah rebahan disebelahku. Akhirnya Rara pulang kejakarta hari minggu sore. Aku dan Rara beberapa kali mengulangi persetubuhan kami disela-sela aku dan Rara jalan-jalan di Bandung,

Thursday, September 3, 2015

Adik Sepupuku



Gua tertarik untuk ceritain pengalaman gua ini,
setelah ngebaca punya
temen-temen yang udah ngirim duluan.
Soalnya pengalaman ini yang tau ya
cuman gua ama yang bersangkutan (adik sepupu gua).
Dan pengen share ama
netter-netter yang interest dan bakal ngebaca.
Soal entar pada percaya
ato enggak ya terserah aja, mana bisa tau kalo gua boong ato enggak, ya
kan?
Singkat cerita, gua udah 2 taun nggak ketemu ama adek sepupu gua yang
satu ini, sebut aja namanya Nita, umurnya 19, lulus SMA tapi nggak
kuliah, tinggi kira- kira 168 cm beratnya nggak tau tapi yang pasti
proporsional, rambutnya hitam panjang agak bergelombang, kulit putih
mulus, Chinese Menado soalnya, ukuran bra 34C (gua tau deskripsi ini
penting, kalo nggak susah ngebayanginnya, hehe). O iya, ukuran bra ini
gua taunya belakangan lho, dulu- dulu ya nggak tau.
Gua terakhir ketemu dia summer 96 waktu gua pulang dari Vancouver buat
liburan. Sekarang gua udah kerja kira-kira 4 bulan di satu perusahaan
swasta. Dari sejak gua SMA, Nita ini adek sepupu yang paling deket ama
gua, apa aja pasti diceritain ke gua termasuk pengalaman-pengalaman dia
ama co-conya.Memang si Nita ini anaknya agak-agak nakal dan berani, jadi
nggak heran kalo perawannya ilang waktu masih umur 15. Dan sekarang aja
daripada kuliah dia lebih milih jadi model freelance (sempet masuk
semifinalis di satu majalah ce), tapi belon prof masih amatir lah. Sejak
gua balik dari Vancouver Nita sering jalan-jalan ama gua entah nemenin
gua lunch ato nonton, kalo yang nggak kenal gua pasti nyangkain kita ini
pacaran. Diem-diem gua sih sering juga tergoda ama penampilan fisik Nita
yang sekarang makin bohai aja, dan dia udah punya co sih, seorang
pengusaha muda (bakal nikah ama ce lain). Inilah yang jadi masalah buat
Nita, sering dia stress mikirin co nya yang udah dijodohin ama ce lain
dan ngadu ke gua. Satu malem dia nelfon ke rumah gua and ngajak gua ke
tempat kos dia, katanya lagi kesepian soalnya co nya lagi ada kerjaan di
luar kota. Gua sih sebagai kakak kasian juga, and kebetulan lagi nggak
ada kerjaan jadi ya gua iyain, rencananya sih mau gua ajak ke cafe
ngobrol-ngobrol.
Sampe di tempat kos Nita ternyata dia males keluar, terus ya udah gua
ngobrol-ngobrol aja di kamarnya. Lagi ngobrol-ngobrol eh tau-tau dia
keluarin seperangkat alat yang biasa dipake buat mengkonsumsi salah satu
jenis drugs yang populer di kalangan anak muda (nggak usah gua sebutin
deh apa namanya, yang pasti makenya agak repot dan nariknya bisa PP kalo
nafasnya panjang). Gua sih emang bukan pemake tapi juga nggak asing ama
barang-barang gituan, jadi waktu diajak make bareng ama Nita ya ok-ok
aja. Cukup banyak kita berdua make barang itu sambil becanda- becanda.
Sambil ketawa-ketawa and ngobrol-ngobrol tiba-tiba si Nita ngelepas
T-shirtnya dengan alasan kegerahan, gua sih agak kaget tapi pura-pura
tenang, tapi terus terang dalam keadaan under influence kaya gitu gairah
kelaki-lakian gua jadi bangkit dengan luar biasa, ngomong pun jadi
enteng. Baru sekali itu gua ngeliat betapa bagusnya buah dada Nita,
nggak terlalu gede tapi keliatan kenceng dan menantang untuk diremas.
Sekali-kali tanpa disadari dia kalo gua merhatiin, Nita melakukan
gerakan-gerakan seperti menekan teteknya itu, mungkin dia bener- bener
enjoy.
Akhirnya dia sadar kalo dari tadi gua ngeliatin dia, dan tampaknya
pandangan mata co kalo lagi nafsu itu nggak bisa ngeboongin. Nita
tersenyum sambil mendekatkan badannya dan peluk gua. Gua pun peluk dia
juga, hmm kerasa kenyal banget tetek dia, and putingnya yang ternyata
udah keras itu kerasa di dada gua. Saat itu juga kontol gua langsung
ereksi abis. Nita mendekatkan wajahnya ke gua dan lidahnya dimainin di
bibir gua yang masih terkatup karena kaget dan seneng yang belon ilang.
Gua pun berinisiatif ngebalas permainan lidah dia dengan lidah gua, kita
pun saling mengulum dengan penuh nafsu.
Nita berbisik," Kak...Nita udah nggak tahan dari kemaren...puasin Nita ya
Kak.."
Gua pun mengangguk dengan antusiasnya. Abis mendesah di kuping gua tadi
Nita melanjutkan permainan lidahnya di mulut gua, sementara tangan gua
pun mulai ngelepasin tali BH. Dia...sadar kalo BHnya sedang gua copot,
Nita dengan tanpa berhenti nge-kiss gua ngelepasin celana pendeknya.
Damn!! dalam hati gua kagum juga ama adek gua yang satu ini, jam
terbangnya pasti udah tinggi. Gua ngelepasin mulut gua dari mulut Nita
buat ngeliat dengan jelas teteknya yang dari tadi gesek-gesek dada gua.
Bener-bener indah! gua remas sejadi- jadinya sambil gua mainin ujung
lidah gua di putingnya.
Nita mendesah, " Aduhhh kak...sshhhh..aduhhh h..". Cuman itu yang keluar
dari mulutnya.
Sementara itu gua terusin permainan lidah gua ke arah perutnya yang rata
itu, gua berhenti di bagian pusar dan konsentrasi di bagian itu sambil
ngeremes bokongnya yang padat, kedua tangan gua selipin ke bokongnya dan
pelan-pelan gua lucutin celana dalemnya ke bawah. Detik berikutnya
tampaklah sebuah pemandangan yang luar biasa indahnya. Nita ternyata
tipe ce yang suka ngebiarin jembutnya tumbuh dengan lebat tanpa
tersentuh alat cukur..... Gua elus-elus paha dalemnya dan naik sampe ke
pinggir sisi kiri kanan bibir luar vaginanya. Gua elus-elus vaginanya
dengan dua jari bergerak dari arah bawah ke atas. Sementara itu Nita
meremas-remas sendiri teteknya sambil merem, keliatan banget kalo dia
sangat menikmati permainan ini.
Pelan gua sibak bibir vaginanya dengan jempol dan telunjuk ke arah atas
sampe kelentitnya nongol keluar, terus gua jilatin deh kelentit Nita
pelan-pelan dengan jilatan-jilatan pendek dan terputus sambil tangan gua
yang satunya mainin puting susunya.
Nita makin mendesah, "Iya kak...shhhhh...disit u kak...enak kak..shhhh."
Tampak keningnya berkerut tanda kenikmatan yang dia alami makin naik ke
level yang lebih tinggi. Gua nerusin permainan lidah gua dengan
jilatan-jilatan panjang dari lubang anusnya sampai ke kelentitnya.
Terasa di ujung idung gua yang sekali-kali nyentuh, vagina Nita mulai
basah, bahkan sebagian cairan vaginanya mengalir sampai ke lubang
anusnya. Sesekali pinggulnya bergetar dibarengi erangan Nita yang makin
keras. Gua pun segera memutar badan gua ke posisi "69". Walaupun celana
panjang gua belon lepas, gua yakin pasti Nita dengan cekatan melepasnya
dan bener!! Terampil sekali dia ngebuka celana gua dan celana dalem gua
sekaligus dengan satu gerakan dan langsung masukin kontol gua yang udah
tegang dari tadi ke mulutnya yang hangat itu, shit!! kalo gua nggak
bisa kontrol dikit aja...pasti deh gua bakal keluar dalam satu menit,
kuat banget isepan si Nita dan gerakan ujung lidahnya begitu lincah di
bagian bawah palkon gua, kebayang deh geli-geli enaknya.... tapi gua
segera fokus ke jilatan-jilatan gua di vagina Nita yang makin basah aja
apalagi waktu gua masukin dua jari ke lubang vaginanya, saat udah masuk
semua, gua sedikit bengkokin jari gua ke arah atas supaya bisa kena
"G-Spot" dia dengan tekanan yang cukup.
Bener!!!...Nita sedikit menjerit dan pantatnya nyentak ke atas sampe
jari-jari gua yang tadinya di dalem kelepas dan bagian jembutnya
menghantam muka gua. Gua segera kembali masukin dua jari gua dan
melakukan gerakan yang sama.... tapi kali ini gua juga mainin lidah gua
di kelentit Nita yang tampak semakin menonjol hingga gampang dirasakan
untuk diisep, gua isep pelan sambil mainin lidah gua. Nita makin kenceng
and hot aja ngisep- isep kontol gua...duhh Nita... Nita....
Tiba-tiba dia ngelepas isepannya dan mendesah dengan suara yang
tertahan, " Kak.....Nita udah nggak nahaannn....masukin
kak...shhhhhhh.....s ekarang kak!!...shhhhhh.&quo t;
Tanpa perlu mendengar " perintah" tersebut untuk kedua kalinya gua dengan
secepat kilat memutar badan gua, gua tekuk kaki Nita ke atas dan tanpa
ampun gua tusukin kontol gua ke lobang vagina Nita yang udah banjir
itu.....
Nita teriak, " ADUHH KAKK....!!!! Ahhhhhh..." sambil menarik kepalanya ke
belakang dan menggigit bibirnya.
Gua masuk keluarin kontol gua dengan gerakan pelan tapi panjang-panjang,
uhhh enak bener meki Nita ini, basahnya itu bener-benar kerasa hangat di
dalem. Makin lama gua makin cepet gocek kontol gua karena gua sendiri
udah nggak nahan tarik keluar masuk pelan-pelan kaya gitu. Nita
mengerang sejadinya, gerakan pinggulnya mengikuti irama kocokan gua,
sesekali tangan gua mainin kelentitnya, gua usap-usap dengen gerakan
yang sama cepetnya dengan kocokan kontol gua. Pada tahap ini erangan
Nita udah nggak terdengar tapi mulutnya kebuka segede tuh mulut bisa
ngebuka sambil merem kenceng-kenceng, gua bener-bener nggak tahan liat
ekspresi muka adek gua yang imut ini, gua pelanin kocokan gua dan
rebahin badan gua ke depan buat ngelumat bibir dia yang kebuka itu....
Begitu Nita kerasa bibirnya kesentuh lidah gua langsung dilumat abis
bibir gua dan diisep- isepnya lidah gua sampe sedikit kerasa sakit...
Nafasnya bener-bener kaya kuda....gua sendiri juga....dan gua tau nggak
bakal bisa nahan sampe paling lama 2 menit lagi.
Nita mengerang di mulut gua dan detik berikutnya ngelepas ciumannya
sambil menjerit, " HAADUUHHHHHH......... ADUUUUHHH KAAAK!!..."
Rupanya Mita telah mencapai klimaks, kerasa banget cairan vaginanya
menyemprot dengan lembut di kontol gua beberapa kali dibarengin dengan
kontraksi vaginanya, nggak sampe dua puluh detik setelah itu gua pun
ngerasa bakal keluar...... Segera gua cabut kontol gua yang basah kuyup
dengan cairan vagina Nita itu keluar, gua arahin kontol gua ke lantai,
nggak tega gua nyemprotin sperma gua ke badan adek gua tersayang
itu..... Ada mungkin 5 kali lebih gua nyemprotin air mani gua ke lantai,
nggak selalu gua klimaks seperti itu....dari 5 kali making love mungkin
sekali yang kaya gitu. Gua segera ngebersihin kontol gua dan juga
tentunya tumpahan mani gua yang di lantai itu. Gua liat Nita udah
tergeletak lemas dengan mata terpejam....rupanya klimaksnya begitu kuat
sampe dia tertidur. Gua bersihin vaginanya pake tissue pelan-pelan dan
melap keringetnya pake anduk.Gua segera pake baju karena gua juga
ngerasa capek banget dan nggak mungkin gua tidur di situ. Setelah gua
mengenakan pakaian, gua tengok lagi adek gua tersayang itu dan gua kecup
keningnya dengan penuh kasih sayang... Perasaan gua waktu ngecup
keningnya berbeda dengan kalo gua setelah making love dengan ce-ce lain.Perasaan sayang gua tetep sebagai sayang seorang kakak ke adek, nggak
ada perasaan ingin memiliki sebagai pacar (jangan sampe deh). Gua belai
kening dan pipinya.... Sekali lagi gua kecup pipinya dan gua tarik
selimut buat nutupin tubuhnya yang polos tanpa selembar benangpun itu.
Dalam perjalanan dari kamar Nita ke tempat parkiran mobil gua ngelewatin
beberapa orang yang mungkin aja temen si Nita, mereka ngeliatin gua
dengan tatapan penuh curiga... Mungkin aja mereka denger-denger
dikit...ah gua cuek aja, kagak ada yang tau kalo gua kakaknya ini..pikir
gua. Dalam perjalanan pulang gua segera ngebayangin ce gua, berusaha
ngerasain kalo gua abis making love ama dia, bukan adek gua... Ternyata
bisa walau agak sulit karena ce gua nun jauh di negeri seberang....oh
iya...udah ex tuh... Tapi sempet juga gua berpikiran nakal untuk
ngelakuin itu lagi ama Nita..(dasar co ya).. Tapi hmmm dia kan adek
gua..... Apakah terulang lagi??? Tunggu gua ceritain pengalaman gua
selanjutnya....
Nb: kalo niatnya cuman ngeledekin ato caci maki gua mending batalin aja
deh, kagak bakalan gua tanggepin. Kalo yang pengen sekedar kenalan aja,
gua tunggu..ok :)

Anakku Pelampiasan Nafsuku



Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks.
Sayangnya suamiku sudah uzur.
kami beda umur hampir 15 tahun.
sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar, untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia kepala 3 ini.

Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel.
Dan ultimatum pun keluar dari suamiku. Aku dilarang olehnya beraktivitas di luar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun kedua anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian ketiganya mengawasiku. Tommy anak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Bagus yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat. Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri.

Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kemaluan laki-laki! Seperti pada pagi hari Senin, saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Bagus sudah pergi, dan tinggal Tommy yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup. Aku pun segera melorotkan CD-ku dan langsung menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang kemaluanku. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi, tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Tommy, anak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi.

Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku, dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku. Dan Tommy tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja, aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Tommy. Anak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai mamanya.

Saat kami berhadapan tangan kanan langsung meraba selangkangan anak sulungku itu.
�Bercintalah dengan Mama, Tommy!?pintaku sambil mengelus-elus selangkangan Tommy yang sudah tegang.
Tommy tersenyum, �Mama tahu, sejak Tommy berumur 17 Tommy sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Tommy bercinta dengan Mama..?
Aku terperangah mendengar omongannya.
�Dan sering kalo Mama tidur, Tommy telanjangin bagian bawah Mama serta menjilatin kemaluan Mama.?
Aku tak percaya mendengar perkataan anak sulungku ini.
�Dan kini dengan senang hati Tommy akan entot Mama sampai Mama puas!?

Tommy langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan anakku sedemikian rupa, hanya sanggup mendesah dan menjerit kecil. Puas berciuman, Tommy melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang waktu kecil pernah Tommy hisap, kembali dihisap anak sulungku itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampai mengkilat, dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra. Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Tommy. Ciuman Tommy berlanjut ke perut, dan anakku itu pun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Tommy lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks.

Tommy tersenyum sebentar ke arahku, sebelum mulutnya mencium permukaan lubang tempat di mana dia dulu pernah keluar. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina mamanya, membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Tommy tak peduli, anak sulungku itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi. Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang. Tommy tersenyum lagi. Anakku itu kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi mamanya dengan penisnya yang telah tegang. Tommy bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya, �Tunggu sayang, biar Mama kulum burungmu itu sebentar.?Tommy menurut, di sodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis anakku itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara anakku membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap.

�Sekarang kau boleh entot kemaluan Mama, Tom..?kataku setelah puas mengulum penisnya. Anakku itu mengangguk. Penisnya segera dibimbing anakku menuju lubang kemaluan tempat Tommy lahir. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Tommy untuk masuk ke dalam dengan mulus. �Ahh.. Tomm!?aku mendesah saat penis Tommy amblas dalam kemaluanku. Tommy lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Tommy seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian. Berbagai macam posisi diperagakan oleh Tommy, mulai dari gaya anjing sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi anak sulungku itu belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa.

Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Tommy mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Tommy memeluk dengan erat, saat itu pula air mani anak sulungku itu membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya. Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Tommy dengan cairanku sendiri. Tommy masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Bagus pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari anakku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua.

Kakak Ipar Gue



Ketika itu gue masih kelas 2 smp.
Gue lagi di suruh nyokap buat nganterin makanan ke rumah abang tiri gue.
Umur abang tiri gue beda jauh ama gue.
Umurnya waktu itu 35 taon. Bininya umurnya sekitar 30anlah. Waktu itu rumah abang gue lagi sepi. Keponakan gue lagi pada sekolah siang. Abang gue lagi kerja. Tinggal ipar tiri gue aja lagi di rumah.

Pas udah nyampe dan udeh ngasih anteran gue mao pulang tapi ipar gue nyuruh gue buat ngambil cetakan foto yang katanya buat dititipin ke nyokap. Gue terus pergi ke lemari kamar die. Di dalem lemarinya banyak barang yah udah gue cari-cari dulu. Di tengah tumpukan itu ternyata ada stensilan. Terus terang aja gue baru kali itu liat kaya gituan. Gue terpana dong. Eh lagi asik-asiknya ngeliat tiba-tiba ipar gue ada di belakang gue. Dia senyum-senyum sambil nanya �Nyarinya kok lama??

Reaksi gue langsung malu ama gelagapan. Terus dia bilang wajar kok atas tingkah gue yang �salting? Dia bilang dia punya yang laen yang lebih bagus. Trus dia nyalakan video player dan alamak hot banget adegannya mata gue nggak bisa kedip sedikitpun. Ketika gue lagi terpana dan terangsang tiba-tiba tangan ipar gue ngegerayangin kontol gue. Aduh gile rasanya �nyer-nyeran?ampe-ampe rasa anget campur dingin naik turun di dada gue dan ke seluruh pelosok tubuh gue.

Tiba-tiba tangannya ngebimbing tangan gue buat masuk ke dalam toket(tetek) dia. Alamak?anget banget dan mulus kenyal. Uah?!gila rasanya selangit. Terus toketnya dikeluarin langsung dah gue terkam, mmmhhhh pentilnya langsung gue isep. Sambikl tangannya terus buka celana gue sambil ngocok-ngocok �batangan gue? Nggak berapa lama gantian dah ipar gue yang ngisep kontol gue, uih..! gile gue langsung �ngecrot? Peju(sperma) gue langsung diminum.Terus gue lesu. Ipar gue bilang jangan pulang dulu. Gue di suruh tidur dulu di kamarnya. Baru berasa semenit tidur muka gue terasa ada yang nindihin. Pas gue melek dikit tiba-tiba gue ngeliat ipar gue lagi ngedudukin muka gue sambil ngegesek-gesekin ke muka gue. Buset deh itu memek udeh basah sampe gue mau buka mata susah gara-gara aer dari memeknya bikin bulu mata gue lepek(basah). Trus gue disuruh jilatin memek die.

Emang sih rada jijik tapi waktu itu gue kagak berani ngelawan perintah orang yang lebih tua tapi lama-lama terbiasa juga ngejilatinnya. Abis itu dia nyepong(ngoral) gue lagi. Pas udah ngaceng(ereksi) langsung aja dia masukin ke memek dia. Slup!! aje ahhh itu memek rasanya licin banget. Enak, legit ame basah. Toketnya disodorin(diarahkan) ke muka gue. Langsung aje gue isep. Tapi gue payah kagak bertahan lama. Akhirnya gue ngecrot lagi tapi ipar gue belon puas gue terus dia terus aja ngegesekin memeknya di kontol gue yang udeh loyo sampe akhirnya dia puas.

Setelah itu gue secara teratur belajar �ngegoyang?cewe dari ipar gue supaya gue ta�an lama. Gue lakukan sampe gue kelas dua es em u karena gue udeh punya pacar. Gue suka ngisep toket ama ngejilat memek yang bersih. Tapi sekarang gue ude putus.