Wednesday, May 20, 2015
Friday, May 15, 2015
Monday, May 4, 2015
Cinta, Seks Dan Hasrat
1:01 PM
No comments
Waktu itu aku sedang sendiri.
Aku baru saja (sekitar sebulan) berpisah dengan salah seorang gadis yang sangat kusayangi.
Ah, aku sendiri heran, mengapa
perpisahan yang kali ini membuatku sedikit sakit hati.
Hari-hari terasa sangat berat
tanpa kehadirannya, bahkan
aku pun punya rasa sedih
akan kehilangan seseorang
(setidaknya itulah yang
kupikirkan saat itu).
Aku jadi
semakin sering menelepon
Enni (kekasih pertamaku)
walau hanya sekedar
menceritakan betapa aku
merasa sangat sendirian.
Mungkin kalian pernah
merasakan (paling tidak
sekali) serius menjalin
hubungan dengan seseorang,
dan begitu pula aku. Pathetic,
untuk cowok sepertiku. Tapi,
yah terkadang perasaan tak
dapat selalu ditipu, bukan?
Suatu hari aku (karena
menganggur sekali)
menghabiskan waktu luangku
di toko buku Gramedia, di
jalan Kertajaya, sekedar
membaca-baca buku. Soalnya
di sana satu-satunya toko
buku bermutu dimana kita
bisa membaca gratis. Waktu
itu aku sedang menikmati
membaca buku komik Jepang
Elex Media terjemahan bahasa
Indonesia (entah apa
judulnya, soalnya aku tak
ingin repot mengingatnya).
Menyandarkan tubuhku di
tembok di sebelah rak buku,
dan membiarkan orang-orang
memandangku dengan heran
saat aku tertawa. Saat itulah
tiba-tiba aku melihat sebuah
kepala muncul dari balik buku
yang kupegang.
"Nia?" seruku tak percaya.
"Ray? Bener kan? Raayy!"
seru gadis itu tak kalah
sengit.
Kami berdua tanpa terasa
saling berpelukan, tertawa-
tawa, membiarkan adegan
tak senonoh itu dilihat orang
di sekitar kami.
"Ssshh.. banyak orang," Nia
berkata kepadaku.
"Hahaha.. nyari tempat yuk,"
kataku.
Kugandeng tangannya keluar
dari Gramedia. Kami akhirnya
mengambil tempat di salah
satu warung di sebelah toko
buku itu.
"Ray, gimana aja kabarnya..
umm.. setahun yah?"
Ah ya setahun, lama memang.
"Yah, baik-baik saja. Kamu?"
Lalu Nia bercerita tentang
bagaimana ia setelah lulus
SMU, berangkat ke Jakarta
untuk meneruskan kuliah D1
di sebuah universitas negeri
di sana. Setelah tamat, ia
kembali ke Surabaya dan
bekerja di sebuah bank
swasta yang namanya cukup
kondang di Indonesia.
Ceritanya sangat panjang
(dan siapapun takkan mau
mendengarnya,
membosankan), namun yang
kutahu saat itu aku butuh
teman untuk bicara, untuk..
"Ray, jadi inget waktu dulu."
Aku pun teringat. Waktu..
Kota Xxx, Jawa Timur, 1995
Kami bertengkar hebat hari
itu. Enni tidak mau lagi
mendengar alasanku. Dia
benar-benar marah ketika
mengetahui bahwa aku
melupakan janjiku untuk
mengantarnya les hanya demi
bandku. "Pulang, pikir dulu
perbuatan kamu, baru temui
aku lagi!" Huh, ya sudah,
pikirku sambil beranjak keluar
mengambil sepeda Federal-ku
dan ngeloyor pulang. Di
tengah jalan hampir saja aku
terjatuh, reaksi Nipam di
tubuhku masih belum hilang
benar. Aku pulang ke rumah,
membanting sepedaku di
halaman, dan langsung menuju
ke kamar. Kubuka lemariku
dan mengambil sebotol
Bacardi yang isinya tingal
setengah. Kuambil 'tik' obat di
saku belakangku. Memencet
keluar dua butir terakhir,
mengunyahnya sambil
menenggak seteguk cairan
dari botol di hadapanku.
Nikmat! Anganku melayang,
kujatuhkan tubuhku di
tempat tidur, menunggu
reaksi obat bekerja. Cih,
pikirku, siapa yang butuh
wanita. Kubuka retsleting
celanaku, mengeluarkan
batang kemaluanku,
menggoyang-goyangnya
sejenak dalam genggamanku
sampai menegang. Kusentil
ujungnya dengan telunjukku
sambil tertawa kecil. Gila, aku
tahu kamu protes atas
ucapanku, hahahaha. Setan
pun tertawa dalam jiwaku.
Kubayangkan tubuh Enni di
atasku, tanpa pakaian,
tubuhnya bersimbah peluh.
"Ahh.. uhh.. ahh.. Ray.. ahh..
ahggh.. agg.. ahh.." kutariik-
tarik kulit kemaluanku,
merasakan nikmat pada
ujung-ujung sarafnya.
Sekarang Enni menciumi
dadaku dengan ganas,
menggerak-gerakkan
pinggulnya, "Ahh.. mm.. mm..
hh.. ahh.. ngnggnn.. hh.."
kuraasakan keringat di
permukaan perutku. Nikmat,
anganku semakin melayang.
Bangsat hina! Kulepaskan
genggamanku pada batang
kemaluanku, mengeleng-
gelengkan kepalaku untuk
memperoleh sedikit
kesadaran. Monyet!
Kuulurkan tanganku
mengangkat gagang telepon
yang barusan berbunyi keras
sekali di pinggir kepalaku.
"Halo..?" nada suaraku
terdengar penuh emosi.
"Ray? Kamu tidur..? Sori deh.."
nada suara ketakutan
terdengar dari seberang.
"Ah.. nggak apa-apa. It's
okay," emosiku sedikit
mereda.
"Kamu ada masalah apalagi
dengan Enni?"
"Biasa, sifat kekanak-
kanakannya belum mau
hilang."
"Ya sudahlah, tadi dia nangis
telpon aku.."
"Lalu? Kamu mau menyuruhku
minta maaf ya?"
"Bukan gitu, Ray.."
"Ya sudah deh, aku ngantuk."
Kuletakkan gagang telepon
tanpa menunggu sahutan
suara di seberang. Kembali
menelentangkan tubuhku,
menggenggam batang
kemaluanku. Hup. Ah, ya.
Kuangkat lagi gagang telpon,
menekan beberapa nomor.
"Nia? sori aku sedikit emosi."
"Hmm.. iya deh, tapi jangan
berantem terus."
Pikiranku sedikit melayang.
Obat sialan.
"Nia, jalan yuk."
"Ha? Mau kemana?"
"Curhat saja, aku pingin
refreshing," sahutku sok
sedih.
"Iya deh, jangan pulang
malam-malam okay."
"Yop."
Kuletakkan gagang telpon
ketempatnya semula,
mengambil celanaku dan
berpakaian.
"Ma.. aku pakai mobil,"
teriakku.
"Mau kemana Ray? Nanti
Papa pulang loh.." mama
berteriak dari dalam kamar.
"Bentar saja.." sahutku, dan
langsung mengambil kunci
mobil dan tanpa menunggu
seruan mamaku, aku
membawa mobil papa keluar
rumah.
Di jalan kutenggak teh pahit
yang selalu kubawa di saku
jaketku. Ah, lumayan segar.
Kutaruh kembali botol Vicks
44 itu ke dalam saku jaketku,
dan memacu gas mobil menuju
ke rumah Nia.
Kugerayangi buah dadanya,
menciumi puting susu-nya,
melumat bibirnya, meraba
selangkangannya, "Ahh.. uh..
oh.. hkk.. jangan gitu dong,
Ray. Kamu harus lebih
pengertian." Kubanting stir ke
kiri, memasuki jalan menuju
ke luar kota yang ditumbuhi
pepohonan, jalan itu terlihat
sepi dan gelap.
"Bagaimana bisa pengertian
kalau sifatnya seperti itu
terus?"
"Yaahh.. bagaimana yah?" Nia
terlihat bingung, matanya
menatap jendela, melihat
pepohonan yang seakan
berlari.
"Memang anaknya seperti itu,
Ray?" lanjutnya.
Saatnya, pikirku. Kubanting
stir melewati kali kecil di bahu
jalan, itu bukan masalah
untuk Taft GT milik papaku.
Kurasakan Rena mengelus
rambutku. Aku menangis
semakin keras, mengerang
dan terisak, sesekali menguap
dengan gerakan sesamar
mungkin, sekedar memastikan
air mataku tetap keluar.
"Aku sedih.." isakku.
Yah, sedih sekali, sampai
menempelkan kepalaku di
pahanya.
"Ya, begitulah namanya orang
pacaran, kan nggak harus
senang terus.." kudengar
bisikannya.
"Kamu baik.." kataku lirih
nyaris tak terdengar.
Nia mencondongkan
kepalanya.
"Apa..?"
Susu-nya itu loh, menempel di
ubun-ubunku, seandainya aku
bisa berkata begitu saat itu.
Namun, aku lebih memilih
untuk memutar tubuhku,
mengangkat punggungku
sekuat tenaga sehingga
dapat menyentuh bibirnya
dengan bibirku. "Hhh.. Ray.."
Peduli amat, lagi enak, nih.
"Aku butuhh.. mm.." kukulum
bibirnya.
"Sayanghh.." Nia membalas
ciumanku.
Matanya terpejam. Kuangkat
sisi tubuhku, memeluk
belakang lehernya dengan
telapak tanganku. Plakk!
Tamparan itu telak mengenai
pipiku, membuat pengaruh
obat di kepalaku sejenak
berkurang. "Nia.. maaf.." Aku
beringsut ke bangkuku
sendiri, menutup mukaku dan
menangis seperti seorang
anak kecil. Cukup lama dan
melelahkan untuk berpura-
pura seperti itu. "Ray.. aku
juga minta maaf.." Akhirnya
siasat ini memang tak pernah
gagal.
Nia diam saja saat aku
membalikkan tubuhku dan
mengecup bibirnya. "Ah.. mm.."
kudengar Nia mengeluh dan
kulihat matanya terpejam,
meninggalkan garis
kepasrahan saat kugenggam
susu-nya dengan telapak
tanganku. Sip, pikiranku mulai
bergerak cepat dalam kondisi
setengah sadar. Kutempelkan
telapak tangaku ke belakang
lehernya, menekan kepalanya
supaya aku bisa melumat
bibirnya lebih dalam. "Hhh..
Nia.." kuremas dadanya di
genggamanku, menikmati
kekenyalannya. Nia diam saja
saat kumasukkan tangaku ke
dalam bajunya. "Ray.." Entah
setan mana yang menyetir
otakku saat itu, kuremas
buah dadanya yang empuk,
mengulum bibirnya dengan
penuh nafsu, membuatnya
terengah-engah menahan
tekanan kepalaku.
Nia menurut saat. Kugandeng
lengannya menuju jok
belakang. Kukulum lagi
bibirnya, sekarang tanganku
mengangkat bagian bawah
bajunya. "Ray.. hh.." Kuangkat
bajunya melewati kepalanya,
menciumi dadanya, menjilati
BH yang menutupi
payudaranya, memegang
ketiaknya, mendorong
punggungnya terangkat,
sehingga bisa kutekan
kepalaku di dadanya. "Ahh..
mmhh.. ah.. nikmatnya.." Nia
mengeluh kecil saat kulepas
kaitan BH-nya. Kulihat
payudaranya yang
membusung dan putingnya
yang terlihat menggoda.
Kuhisap putingnya,
menyaksikan pori-porinya
yang membuka saat kujilati
kulit dadanya. "Ray.. hh.."
kubekap mulutnya dengan
bibirku, nafasku mulai
terengah-engah oleh nafsuku
sendiri. Kubuka baju atasku,
menempelkan dadaku ke
payudaranya, menekan dan
menggesek, menikmati semua
keluhan dan rintihannya yang
tertahan ketika bibirku
mengulum bibirnya.
Ah.. kenikmatan ini,
kenikmatan yang selalu
kuinginkan saat hatiku
gundah. Kepalaku terasa
sangat ringan. Kubaringkan
dia di jok belakang, sambil
terus menekan dadaku,
memastikan dia tidak banyak
bergerak. "Ray.. jangan, Ray.."
Ahh, betapa aku merindukan
setiap gadis yang merintih
seperti itu di dekapanku.
Kuteruskan membuka celana
pendeknya, membiarkan
pahanya terlihat jelas. Ahh,
kuelus dan kuraba pahanya
tanpa memperdulikan tatapan
matanya yang setengah
terbuka, menatap protes
atas perlakuanku kepadanya.
Jadi, sebelum tangannya
menyingkirkan tubuhku,
kuciumi lagi wajahnya,
meremas payudaranya,
membuatnya mengerang dan
melenguh. "Ahh.. mmhh..
nnggh.." kunikmati gerakan
tulang punggungnya yang
terangkat. Ahh, nikmatnya.
Kuraba betisnya, menelusuri
kulit pahanya yang mulus,
dan meletakkan telapak
tanganku di permukaan
belahan pahanya, beristirahat
sejenak, menikmati
genggamannya di pergelangan
tangaku yang menguat. "Ya
Tuhan.. ahh.." Sayang, jangan
mendesahkan nama Tuhan
sekarang, paling tidak jangan
saat ini. Kuraba celah
kemaluannya yang mulai
basah dari balik celana
dalamnya.
Menggerak-gerakkan jariku,
membuatnya semakin meronta
dalam tindihan dadaku. "Ray..
oohh.. hh.." Dengan gerakan
halus kutarik celana dalamnya
menelusuri pahanya, betisnya,
menikmati geliatnya di
tindihanku. Ahh.. betapa
indahnya kenyataan yang
akan kuberikan padamu,
gadisku. Kukecup bibirnya
dengan lembut, sebelum
membuka ikat pinggangku dan
menurunkan celanaku berikut
celana dalam yang menutupi
auratku.
Nia memandang mataku
dengan wajah memelas
memohon pengertian, namun
pengertian apakah yang bisa
kuberikan kepadanya saat
itu? Nyaris tidak ada.
Kugenggam pergelangan
tangannya, menuntunnya ke
batang kemaluanku yang
mulai tegang tak karuan.
"Aaahh.." kurasakan
nikmatnya saat tangannya
menempel dan menggenggam
batang kemaluanku.
"Ray, aku tidak mau begini."
"Nia, please.." kukecup
bibirnya, sama sekali tidak
merasakan penolakannya.
"Ray.." mendadak (seperti
wanita pada umumnya) Nia
menekan bahuku menjauh.
"Oke," katanya.
"Aku sebenarnya juga mau."
Wah, ini luar biasa, pikirku.
"Tapi ada syaratnya.."
Sial!
"Kamu harus mau menjadi
pacarku."
Aih, jadi ini masalahnya. Dapat
kubayangkan hubungan
persahabatan kompetitif
antara Enni dan Nia, ahh..
begitu bodohkah aku?
"Okay.. as you wish.. my lady."
Ternyata begitu, hmm..
mungkinkah Nia merasa iri
atas keberhasilan Enni
mendapatkanku? Sempat
terpikir olehku tentang apa
saja yang telah diceritakan
Enni kepadanya mengenai
hubungan kami. Tapi..
mendadak Nia menekan
leherku dengan tangannya,
mengecup bibirku dengan
penuh nafsu. "Ah? Mmm.."
Dalam keterkejutanku, aku
nyaris tidak percaya semua
ini. Nia mendadak menggerak-
gerakkan genggamannya
pada batang kemaluanku.
"Ahh.. ah.. ah.. kk.." tak dapat
kutahan nikmat yang
menjalar di seluruh pembuluh
darahku. Kuciumi seluruh
wajahnya, menjilat bibirnya
yang terbuka dan terengah,
menggigit lehernya, menghisap
puting susu-nya dan tanpa
basa-basi kuangkat tubuhku,
menaikkan pahanya ke
samping, dan menempelkan
ujung kemaluanku di
permukan liang kemaluannya.
Kulihat pandangan matanya
yang sayu, melihat anggukan
kecilnya. Apakah ini saatnya
perjalananku berhenti?
Membayangkan memiliki
seorang kekasih yang tak
dapat kulepas lagi? Masa
bodoh.
"Ahh.." kudengar ia menjerit
kecil saat kutekan-tekan
ujung kemaluanku ke liang
kemaluannya. Namun aku
masih sangat muda dan miskin
pengalaman saat itu, bahkan
dengan keseringanku
menonton film blue aku masih
tidak dapat melakukannya.
Aku menjadi bingung,
keringatku keluar dari dahi
dan sekujur tubuhku. "Ahh..
ah.. ah.. Ray.. ah.." kudengar
erangannya saat pinggulku
bergerak-gerak di atasnya.
Shit! bagaimana melakukannya
dengan benar? Saat itu aku
menjadi panik.
"Nggak mau masuk, nih.."
kataku dengan alis berkerut.
"Ahh.. hidupin.. lampunya.." Nia
berkata setengah tertahan.
Hah? Lampu, sempat aku
celingukan seperti orang
bingung menatap sekelilingku.
Gila apa ya? Dalam
kebingunganku, pinggul Nia
terangkat menekan batang
kemaluanku, membuatku
sedikit mengerang.
"Ngga ah.. kamu aja yang
naruh," ujarku.
"Hhh.." Nia memegang batang
kemaluanku dan menaruhnya
di.. entah bagian mana dari
kemaluannya. Aku berusaha
menekan lagi,
"Ahhkk.."
Kami mengerang bersamaan,
kutekan-tekan batang
kemaluanku, tanganku
menggapai susunya dan
meremas-remas, membuat
kepalanya terangkat ke
belakang.
Keringat di tubuhku semakin
deras karena kurangnya
ventilasi di dalam mobil, dan
karena segala gerakan yang
kulakukan. "Ahh.. ahh.. ah.." Nia
masih mengerang-erang di
bawahku. Kutekan terus
batang kemaluanku berusaha
menembus "apapun" juga
yang menghalangi
pergerakannya saat itu. Aku
mulai jenuh menekan-nekan
tanpa hasil. Nia mengangkat
kepalanya dan memandang ke
bawah. "Duh.. gimana sih..
sakit nih.." Ya gimana dong?
pikirku saat itu. Kuakui aku
masih buta melakukan
hubungan seksual, kalau
peting sih sering. "Terus.."
tanyaku. Nia bangkit,
mendudukkan dirinya, dan
menarik pundakku.
"Coba kalau begini."
"Ahhkk.."
Kurasakan bibirnya yang
menempel di dadaku.
"Ahh.. ah.."
Nia mengeluh saat tangannya
menggenggam batang
kemaluanku dan menaruhnya
di entah bagian mana dari
kemaluannya dan
mendudukinya.
"Aacchh.." batang kemaluanku
terasa sakit. Nia menarik
punggungnya ke belakang,
meletakkan tangan kanannya
di atas sandaran kepala
bangku depan, dan
menggoyang-goyang
pinggulnya yang menduduki
batang kemaluanku. "Ahh.. ah..
ah.." aku mulai merasakan
kenikmatan yang ditimbulkan
oleh goyangannya di sekujur
tubuhku.
"Ahkk.."
Tanganku mencengkeram
pahanya, berusaha menahan
spermaku yang hampir keluar.
"Arrgghh.."
Kusentakkan pinggulku ke
atas, membuat tubuh Nia
terangkat sejenak, spermaku
menyembur entah kemana.
Membuat mataku rabun dan
pikiranku yang sudah
terkontaminasi obat
melayang.
Nia menggerak-gerakkan
pinggulnya lagi.
"Ahh.. ahh.." kudengar
nafasnya mendengus.
"Nia.. udah dong.." kataku.
Selalu begini, begitu sudah
keluar, langsung saja
keinginan itu hilang lenyap.
"Ha? Kan belum masuk?"
kudengar Nia berbisik protes.
Kuangkat tubuhku, menatap
kemaluanku yang mulai agak
lemas.
"Masa?" tanyaku.
"Iya, kayaknya belum deh.."
Nia menimpali.
Akh, hahahahahahaha..
"Untunglah.." kataku tanpa
memperdulikan bibirnya yang
terlipat.
"Ray.. duh.."
Kukenakan baju dan celanaku,
melihatnya masih duduk di
pojok kursi belakang tanpa
pakaian dan menyilangkan
tangannya di dada.
"Nih.." ujarku saat mengecup
bibirnya dan dadanya.
Kuremas lubang kemaluanya
sambil tertawa. Akhirnya Nia
tertawa mengiringiku, dan
mengenakan baju dan
celananya kembali. Anehnya,
pengaruh obat itu mulai
terasa agak ringan sekarang.
Kuantar ia pulang ke
rumahnya. Sampainya di
depan pagar, kesadaranku
mendadak sedikit pulih.
"Nia.. umm.. kita.."
Nia membalikkan tubuhnya,
"Aku tahu kok.. nggak pernah
ada apa-apa kan?" Aku
tersenyum kepadanya.
"Thanks.."
"Your welcome, Ray," jawab
gadis manis itu sebelum
menghilang di balik pintu
rumahnya.
Ah.. what a night.
Kukendarai mobilku menembus
gelap malam. Mendadak saat
itu aku ingin menelepon Enni
dan meminta maaf.
---------------------------------------
"Ray..?" "Ah, sorrie.." sahutku
cepat.
"Eh.. Nia.. mm.. gini.." Nia
tertawa melihat kegugupanku.
"Jalan yuk."
"Hah.. sure.." aku tergagap-
gagap.
Selalu saja anak ini tahu
maksudku. Hehehehehe!
Dalam perjalanan, Nia lalu
bercerita bagaimana semenjak
lulus SMU ia selalu berusaha
melupakanku dan menolak
setiap lelaki yang berusaha
mendekatinya. Dan
mengomeliku karena tidak
pernah menghubungiku lagi
sejak perpisahanku dengan
Enni. Aku sangat terharu,
karena aku juga tahu betapa
ia menyayangiku, namun
karena persahabatan adalah
yang terpenting baginya, ia
rela menyerahkan
kemenangan itu kepada Enni.
Ah, Nia.. seandainya saja.. Nia
lalu bercerita bagaimana Mas
Dita (begitu dia menyebutnya)
berhasil meluluhkan gunung es
dalam hatinya, dan
mengajaknya bertunangan
kira-kira dua bulan yang lalu.
Sampai di sini aku terdiam,
memandangnya tanpa
berkedip, lalu kami berdua
tertawa terbahak-bahak,
antara sedih, kerinduan, dan
kasih sayang tulus seorang
teman sejati.
Masih kuingat, sebelum
kuturunkan kembali ia di
Gramedia (karena Dita akan
menjemputnya seperempat
jam lagi), Nia sempat mencium
pipiku dan meremas
kemaluanku dari balik
celanaku, tersenyum
memandangku dan berkata,
"Ray, kita akan bersahabat
selamanya.." aku hanya bisa
tersenyum saat itu, semua
gejolak nafsuku hilang
berganti perasaan menyesal,
sayang, dan haru yang
berkecamuk di hatiku. "Tentu..
Nia.." jawabku.
Pemerkosaan Nikmat
12:27 PM
No comments
Kisahku mungkin biasa saja,
yakni tentang prt (pembantu
rumah tangga) yang
diperkosa majikannya.
Memang tidak ada yang
istimewa kalau cuma kejadian
semacam itu, namun yang
membuat kisahku unik adalah
karena aku tidak hanya
diperkosa majikanku sekali.
Namun, setiap kali ganti
majikan hingga tiga kali aku
selalu mengalami perkosaan.
Baik itu perkosaan kasar
maupun halus. Aku akan
menceritakan kisahku itu
setiap majikan dalam satu
cerita.
Begini kisahku dengan majikan
pertama yang kubaca
lowongannya di koran. Dia
mencari prt untuk mengurus
rumah kontrakannya karena
ia sibuk bekerja. Aku wajib
membersihkan rumah,
memasak, mencuci, belanja dll,
pokoknya seluruh pekerjaan
rumah tangga. Untungnya aku
menguasai semuanya sehingga
tidak menyulitkan. Apalagi
gajinya lumayan besar plus
aku bebas makan, minum
serta berobat kalau sakit.
Manajer sekitar 35 tahunan
itu bernama Pak S, asal
Medan dan sedang ditugasi di
kotaku membangun suatu
pabrik. Mungkin sekitar 2
tahun baru proyek itu selesai
dan selama itu ia mendapat
fasilitas rumah kontrakan. Ia
sendirian. Istri dan anaknya
tak dibawa serta karena
takut mengganggu
sekolahnya kalau berpindah-
pindah.
Sebagai wanita Jawa berusia
25 tahun mula-mula aku agak
takut menghadapi kekasaran
orang etnis itu, namun
setelah beberapa minggu
akupun terbiasa dengan logat
kerasnya. Pertama dulu
memang kukira ia marah,
namun sekarang aku tahu
bahwa kalau ia bersuara
keras memang sudah
pembawaan. Kadang ia
bekerja sampai malam.
Sedangkan kebiasaanku
setiap petang adalah
menunggunya setelah
menyiapkan makan malam.
Sambil menunggu, aku nonton
TV di ruang tengah, sambil
duduk di hamparan permadani
lebar di situ. Begitu suara
mobilnya terdengar, aku
bergegas membuka pintu
pagar dan garasi dan
menutupnya lagi setelah ia
masuk.
aEsTolong siapkan air panas,
Yem,aEt suruhnya suatu
petang, aEsAku kurang enak
badan.aEt Akupun bergegas
menjerang air dan
menyiapkan bak kecil di
kamar mandi di kamarnya.
Kulihat ia menjatuhkan diri di
kasurnya tanpa melepas
sepatunya. Setelah mengisi
bak air dengan air
secukupnya aku berbalik
keluar. Tapi melihat Pak
Siregar masih tiduran tanpa
melepas sepatu, akupun
berinisiatif.
aEsSepatunya dilepas ya, pak,aEt
kataku sambil menjangkau
sepatunya.
aEsHeeh,aEt sahutnya mengiyakan.
Kulepas sepatu dan kaos
kakinya lalu kuletakkan di
bawah ranjang.
aEsTubuh bapak panas sekali
ya?aEt tanyaku karena
merasakan hawa panas
keluar dari tubuhnya. aEsBapak
masuk angin, mau saya
keroki?aEt tawarku
sebagaimana aku sering
lakukan di dalam keluargaku
bila ada yang masuk angin.
aEsKeroki bagaimana, Yem?aEt
Baru kuingat bahwa ia bukan
orang Jawa dan tidak tahu
apa itu kerokan. Maka sebisa
mungkin kujelaskan.
aEsCoba saja, tapi kalau sakit
aku tak mau,aEt katanya. Aku
menyiapkan peralatan lalu
menuangkan air panas ke bak
mandi.
aEsSekarang bapak cuci muka
saja dengan air hangat, tidak
usah mandi,aEt saranku. Dan ia
menurut. Kusiapkan handuk
dan pakaiannya. Sementara ia
di kamar mandi aku menata
kasurnya untuk kerokan. Tak
lama ia keluar kamar mandi
tanpa baju dan hanya
membalutkan handuknya di
bagian bawah. Aku agak
jengah. Sambil membaringkan
diri di ranjang ia menyuruhku,
aEsTolong kau ambil handuk
kecil lalu basahi dan seka
badanku yang berkeringat
ini.aEt Aku menurut. Kuambil
washlap lalu kucelup ke sisa
air hangat di kamar mandi,
kemudian seperti memandikan
bayi dadanya yang berbulu
lebat kuseka, termasuk
ketiak dan punggungnya
sekalian.
aEsBapak mau makan dulu?aEt
tanyaku.
aEsTak usahlah. Kepala pusing
gini mana ada nafsu makan?aEt
jawabnya dengan logat
daerah, aEsCepat kerokin aja,
lalu aku mau tidur.aEt
Maka ia kusuruh tengkurap
lalu mulai kuborehi
punggungnya dengan minyak
kelapa campur minyak kayu
putih. Dengan hati-hati
kukerok dengan uang logam
lima puluhan yang halus.
Punggung itu terasa keras.
Aku berusaha agar ia tidak
merasa sakit. Sebentar saja
warna merah sudah
menggarisi punggungnya. Dua
garis merah di tengah dan
lainnya di sisi kanan.
aEsKalau susah dari samping,
kau naik sajalah ke atas
ranjang, Yem,aEt katanya
mengetahui posisiku
mengerokku kurang enak. Ia
lalu menggeser ke tengah
ranjang.
aEsMaaf, pak,aEt akupun
memberanikan diri naik ke
ranjang, bersedeku di
samping kanannya lalu
berpindah ke kirinya setelah
bagian kanan selesai.
aEsSekarang dadanya, pak,aEt
kataku. Lalu ia berguling
membalik, entah sengaja
entah tidak handuk yang
membalut pahanya ternyata
sudah kendor dan ketika ia
membalik handuk itu terlepas,
kontan nampaklah penisnya
yang cukup besar. Aku jadi
tergagap malu.
aEsUps, maaf Yem,aEt katanya
sambil membetulkan handuk
menutupi kemaluannya itu.
Sekedar ditutupkan saja,
tidak diikat ke belakang.
Sebagian pahanya yang
berbulu nampak kekar.
aEsEh, kamu belum pernah lihat
barangnya laki-laki, Yem?aEt
aEsBbb..belum, pak,aEt jawabku.
Selama ini aku baru melihat
punya adikku yang masih SD.
aEsNanti kalau sudah kawin
kamu pasti terbiasalah he he
he..aEt guraunya. Aku tersipu
malu sambil melanjutkan
kerokanku di dadanya. Bulu-
bulu dada yang tersentuh
tanganku membuatku agak
kikuk. Apalagi sekilas nampak
Pak S malah menatap
wajahku.
aEsBiasanya orang desa seusia
kau sudah kawinlah. Kenapa
kau belum?aEt
aEsSaya pingin kerja dulu, pak.aEt
aEsKau tak ingin kawin?aEt
aEsIngin sih pak, tapi nanti
saja.aEt
aEsKawin itu enak kali, Yem, ha
ha ha.. Tak mau coba? Ha ha
ha..aEt Wajahku pasti merah
panas.
aEsSudah selesai, pak,aEt kataku
menyelesaikan kerokan
terakhir di dadanya.
aEsSabar dululah, Yem. Jangan
buru-buru. Kerokanmu enak
kali. Tolong kau ambil minyak
gosok di mejaku itu lalu
gosokin dadaku biar hangat,aEt
pintanya. Aku menurut.
Kuambil minyak gosok di meja
lalu kembali naik ke ranjang
memborehi dadanya.
aEsPerutnya juga, Yem,aEt
pintanya lagi sambil sedikit
memerosotkan handuk di
bagian perutnya. Pelan
kuborehkan minyak ke
perutnya yang agak buncit
itu. Handuknya nampak
bergerak-gerak oleh benda di
bawahnya, dan dari sela-
selanya kulihat rambut-
rambut hitam. Aku tak berani
membayangkan benda di
bawah handuk itu. Namun
bayangan itu segera jadi
kenyataan ketika tangan Pak
S menangkap tanganku sambil
berbisik, aEsTerus gosok sampai
bawah, Yem,aEt dan
menggeserkan tanganku
terus ke bawah sampai
handuknya ikut terdorong ke
bawah. Nampaklah rambut-
rambut hitam lebat itu, lalu..
tanganku dipaksa berhenti
ketika mencapai zakarnya
yang menegang.
aEsJangan, pak,aEt tolakku halus.
aEsTak apa, Yem. Kau hanya
mengocok-ngocok saja..aEt Ia
menggenggamkan penisnya ke
tanganku dan menggerak-
gerakkannya naik turun,
seperti mengajarku
bagaimana mengonaninya.
aEsJangan, pak.. jangan..aEt
protesku lemah. Tapi aku tak
bisa beranjak dan hanya
menuruti perlakuannya.
Sampai aku mulai mahir
mengocok sendiri.
aEsNa, gitu terus. Aku sudah
lama tak ketemu istriku, Yem.
Sudah tak tahan mau
dikeluarin.. Kau harus bantu
aku.. Kalau onani sendiri aku
sudah sulit, Yem. Harus ada
orang lain yang mengonani
aku.. Tolong Yem, ya?aEt
pintanya dengan halus. Aku
jadi serba salah. Tapi
tanganku yang menggenggam
terus kugerakkan naik turun.
Sekarang tangannya sudah
berada di sisi kanan-kiri
tubuhnya. Ia menikmati
kocokanku sambil merem
melek.
aEsOh. Yem, nikmat kali
kocokanmu.. Iya, pelan-pelan
aja Yem. Tak perlu tergesa-
gesa.. oohh.. ugh..aEt Tiba-tiba
tangan kanannya sudah
menjangkau tetekku dan
meremasnya. Aku kaget,
aEsJangan pak!aEt sambil berkelit
dan menghentikan kocokan.
aEsMaaf, Yem. Aku benar-benar
tak tahan. Biasanya aku
langsung peluk istriku. Maaf
ya Yem. Sekarang kau
kocoklah lagi, aku tak nakal
lagi..aEt Sambil tangannya
membimbing tanganku kembali
ke arah zakarnya. Aku
beringsut mendekat kembali
sambil takut-takut. Tapi
ternyata ia memegang
perkataannya. Tangannya tak
nakal lagi dan hanya
menikmati kocokanku.
Sampai pegal hampir 1/2 jam
aku mengocok namun ia tak
mau berhenti juga.
aEsSudah ya, pak,aEt pintaku.
aEsJangan dulu, Yem. Nantilah
sampai keluar..aEt
aEsKeluar apanya, pak?aEt
tanyaku polos.
aEsMasak kau belum tahu?
Keluar spermanyalah.. Paling
nggak lama lagi.. Tolong ya,
Yem, biar aku cepat sehat
lagi.. Besok kau boleh libur
sehari dah..aEt
Ingin tahu bagaimana
spermanya keluar, aku
mengocoknya lebih deras lagi.
Zakarnya semakin tegang dan
merah berurat di
sekelilingnya. Genggaman
tanganku hampir tak muat.
15 menit kemudian.
aEsUgh, lihat Yem, sudah mau
keluar. Terus kocok, teruuss..
Ugh..aEt Tiba-tiba tubuhnya
bergetar-getar dan.. jreet..
jret.. cret.. cret.. cairan putih
susu kental muncrat dari
ujung zakarnya ke atas
sperti air muncrat. Aku
mengocoknya terus karena
zakar itu masih terus
memuntahkan spermanya
beberapa kali. Tanganku yang
kena sperma tak kupedulikan.
Aku ingin melihat bagaimana
pria waktu keluar sperma.
Setelah spermanya berhenti
dan dia nampak loyo, aku
segera ke kamar mandi
mencuci tangan.
aEsTolong cucikan burungku
sekalian, Yem, pake washlap
tadi..aEt katanya padaku. Lagi-
lagi aku menurut. Kulap
dengan air hangat zakar
yang sudah tak tegang lagi
itu serta sekitar
selangkangannya yang basah
kena sperma..
aEsSudah ya pak. Sekarang
bapak tidur saja, biar sehat,aEt
kataku sambil menyelimuti
tubuh telanjangnya. Ia tak
menjawab hanya memejamkan
matanya dan sebentar
kemudian dengkur halusnya
terdengar. Perlahan
kutinggalkan kamarnya
setelah mematikan lampu.
Malam itu aku jadi sulit tidur
ingat pengalaman mengonani
Pak S tadi. Ini benar-benar
pengalaman pertamaku.
Untung ia tidak
memperkosaku, pikirku.
Namun hari-hari berikut,
kegiatan tadi jadi semacam
acara rutin kami. Paling tidak
seminggu dua kali pasti
terjadi aku disuruh
mengocoknya. Lama-lama
akupun jadi terbiasa. Toh
selama ini tak pernah terjadi
perkosaan atas vaginaku.
Namun yang terjadi kemudian
malah perkosaan atas
mulutku. Ya, setelah tanganku
tak lagi memuaskan, Pak S
mulai memintaku mengonani
dengan mulutku. Mula-mula
aku jelas menolak karena jijik.
Tapi ia setengah memaksa
dengan menjambak rambutku
dan mengarahkan mulutku ke
penisnya.
aEsCobalah, Yem. Tak apa-apa..
Jilat-jilat aja dulu. Sudah itu
baru kamu mulai kulum lalu
isep-isep. Kalau sudah
terbiasa baru keluar
masukkan di mulutmu sampai
spermanya keluar. Nanti aku
bilang kalau mau keluar..aEt
Awalnya memang ia menepati,
setiap hendak keluar ia
ngomong lalu cepat-cepat
kulepaskan mulutku dari
penisnya sehingga spermanya
menyemprot di luar mulut.
Namun setelah berlangsung
2-3 minggu, suatu saat ia
sengaja tidak ngomong, malah
menekan kepalaku lalu
menyemprotkan spermanya
banyak-banyak di mulutku
sampai aku muntah-muntah.
Hueekk..! Jijik sekali rasanya
ketika cairan kental putih
asin agak amis itu
menyemprot tenggorokanku.
Ia memang minta maaf karena
hal ini, tapi aku sempat
mogok beberapa hari dan tak
mau mengoralnya lagi karena
marah. Namun hatiku jadi tak
tega ketika ia dengan
memelas memintaku
mengoralnya lagi karena
sudah beberapa bulan ini tak
sempat pulang menjenguk
istrinya. Anehnya, ketika
setiap hendak keluar sperma
ia ngomong, aku justru tidak
melepaskan zakarnya dari
kulumanku dan menerima
semprotan sperma itu. Lama-
lama ternyata tidak
menjijikkan lagi.
Demikianlah akhirnya aku
semakin lihai mengoralnya.
Sudah tak terhitung berapa
banyak spermanya kutelan,
memasuki perutku tanpa
kurasakan lagi. Asin-asin
kental seperti fla agar-agar.
Akibat lain, aku semakin
terbiasa tidur dipeluk Pak S.
Bagaimana lagi, setelah capai
mengoralnya aku jadi enggan
turun dari ranjangnya untuk
kembali ke kamarku. Mataku
pasti lalu mengantuk, dan
lagi, toh ia tak akan
memperkosaku. Maka begitu
acara oral selesai kami tidur
berdampingan. Ia telanjang,
aku pakai daster, dan kami
tidur dalam satu selimut.
Tangannya yang kekar
memelukku. Mula-mula aku
takut juga tapi lama-lama
tangan itu seperti
melindungiku juga. Sehingga
kubiarkan ketika memelukku,
bahkan akhir-akhir ini mulai
meremasi tetek atau
pantatku, sementara bibirnya
menciumku. Sampai sebatas
itu aku tak menolak, malah
agak menikmati ketika ia
menelentangkan tubuhku dan
menindih dengan tubuh
bugilnya.
aEsOh, Yem.. Aku nggak tahan,
Yem.. buka dastermu ya?aEt
pintanya suatu malam ketika
tubuhnya di atasku.
aEsJangan pak,aEt tolakku halus.
aEsKamu pakai beha dan CD
saja, Yem, gak bakal hamil.
Rasanya pasti lebih nikmat..aEt
rayunya sambil tangannya
mulai mengkat dasterku ke
atas.
aEsJangan pak, nanti keterusan
saya yang celaka. Begini saja
sudah cukup pak..aEt rengekku.
aEsCoba dulu semalam ini saja,
Yem, kalau tidak nikmat
besok tidak diulang lagi..aEt
bujuknya sambil meneruskan
menarik dasterku ke atas
dan terus ke atas sampai
melewati kepalaku sebelum
aku sempat menolak lagi.
aEsWoow, tubuhmu bagus, Yem,aEt
pujinya melihat tubuh
coklatku dengan beha nomor
36.
aEsMalu ah, Pak kalau diliatin
terus,aEt kataku manja sambil
menutup dengan selimut. Tapi
sebelum selimut menutup
tubuhku, Pak S sudah lebih
dulu masuk ke dalam selimut
itu lalu kembali menunggangi
tubuhku. Bibirku langsung
diserbunya. Lidahku dihisap,
lama-lama akupun ikut
membalasnya. Usai saling isep
lidah. Lidahnya mulai menuruni
leherku. Aku menggelinjang
geli. Lebih lagi sewaktu
lidahnya menjilat-jilat pangkal
payudaraku sampai ke sela-
sela tetekku hingga
mendadak seperti gemas ia
mengulum ujung behaku dan
mengenyut-ngenyutnya
bergantian kiri-kanan.
Spontan aku merasakan
sensasi rasa yang luar biasa
nikmat. Refleks tanganku
memeluk kepalanya.
Sementara di bagian bawah
aku merasa pahanya
menyibakkan pahaku dan
menekankan zakarnya tepat
di atas CD-ku.
aEsUgh.. aduuh.. nikmat sekali,aEt
aku bergumam sambil
menggelinjang menikmati
cumbuannya. Aku terlena dan
entah kapan dilepasnya tahu-
tahu payudaraku sudah tak
berbeha lagi. Pak S asyik
mengenyut-ngenyut putingku
sambil menggenjot-genjotkan
zakarnya di atas CD-ku.
aEsJangan buka CD saya, pak,aEt
tolakku ketika merasakan
tangannya sudah beraksi
memasuki CDku dan hendak
menariknya ke bawah. Ia
urungkan niatnya tapi tetap
saja dua belah tangannya
parkir di pantatku dan
meremas-remasnya. Aku
merinding dan meremang
dalam posisi kritis tapi nikmat
ini. Tubuh kekar Pak S
benar-benar mendesak-desak
syahwatku.
Jadilah semalaman itu kami
tak tidur. Sibuk bergelut dan
bila sudah tak tahan Pak
Siregar meminta aku
mengoralnya. Hampir subuh
ketika kami kecapaian dan
tidur berpelukan dengan
tubuh bugil kecuali aku pakai
CD. Aku harus mampu
bertahan, tekadku. Pak S
boleh melakukan apa saja
pada tubuhku kecuali
memerawaniku.
Tapi tekad tinggal tekad.
Setelah tiga hari kami
bersetubuh dengan cara itu,
pada malam keempat Pak S
mengeluarkan jurusnya yang
lebih hebat dengan menjilati
seputar vaginaku meskipun
masih ber-CD. Aku
berkelojotan nikmat dan tak
mampu menolak lagi ketika ia
perlahan-lahan menggulung
CD ku ke bawah dan melepas
dari batang kakiku. Lidahnya
menelusupi lubang V-ku
membuatku bergetar-getar
dan akhirnya orgasme
berulang-ulang. Menjelang
orgasme yang kesekian kali,
sekonyong-konyong Pak
Siregar menaikkan tubuhnya
dan mengarahkan zakarnya
ke lubang nikmatku. Aku yang
masih belum sadar apa yang
terjadi hanya merasakan
lidahnya jadi bertambah
panjang dan panjang sampai..
aduuhh.. menembus selaput
daraku.
aEsPak, jangan pak! Jangan!aEt
Protesku sambil memukuli
punggunya. Tetapi pria ini
begitu kuat. Sekali genjot
masuklah seluruh zakarnya.
Menghunjam dalam dan
sejurus kemudian aku merasa
memekku dipompanya cepat
sekali. Keluar masuk naik
turun, tubuhku sampai
tergial-gial, terangkat naik
turun di atas ranjang pegas
itu. Air mataku yang
bercampur dengan rasa
nikmat di vagina sudah tak
berarti. Akhirnya hilang sudah
perawanku. Aku hanya bisa
pasrah. Bahkan ikut
menikmati persetubuhan itu.
Setelah kurenung-renungkan
kemudian, ternyata selama ini
aku telah diperkosa secara
halus karena kebodohanku
yang tidak menyadari
muslihat lelaki. Sedikit demi
sedikit aku digiring ke situasi
dimana hubungan seks jadi
tak sakral lagi, dan hanya
mengejar kenikmatan demi
kenikmatan. Hanya mencari
orgasme dan ejakulasi,
menebar air mani!
Hampir dua tahun kami
melakukannya setiap hari bisa
dua atau tiga kali. Pak S
benar-benar memanfaatkan
tubuhku untuk menyalurkan
kekuatan nafsu seksnya yang
gila-gilaan, tak kenal lelah,
pagi (bangun tidur), siang
(kalau dia istirahat makan di
rumah) sampai malam hari
sebelum tidur (bisa semalam
suntuk). Bahkan pernah
ketika dia libur tiga hari, kami
tidak beranjak dari ranjang
kecuali untuk makan dan
mandi. Aku digempur habis-
habisan sampai tiga hari
berikutnya tak bisa bangun
karena rasa perih di V-ku.
Aku diberinya pil kb supaya
tidak hamil. Dan tentu saja
banyak uang, cukup untuk
menyekolahkan adik-adikku.
Sampai akhirnya habislah
proyeknya dan ia harus
pulang ke kota asalnya. Aku
tak mau dibawanya karena
terlalu jauh dari orang tuaku.
Ia janji akan tetap mengirimi
aku uang, namun janji itu
hanya ditepatinya beberapa
bulan. Setelah itu berhenti
sama sekali dan putuslah
komunikasi kami. Rumahnya
pun aku tak pernah tahu dan
akupun kembali ke desa
dengan hati masygul.
Gadis Sampul Yang Hot
12:15 PM
No comments
Siang itu panas sekali ketika
aku melangkah keluar dari
kampus menuju ke mobilku di
tempat parkir.
Segera kupacu
pulang mobilku, tapi
sebelumnya mampir dulu beli
es dawet di kios di pinggir
jalan menuju arah rumahku.
Setelah sampai rumah dan
kumasukkan mobil ke garasi,
segera kuganti baju dengan
seragam kebesaran, yaitu
kaos kutang dengan celana
kolor.
Kucuci tangan dan
muka, kemudian kuhampiri
meja makan dan mulai
menyantap makan siang lalu
ditutup dengan minum es
dawet yang kubeli tadi,
uaaaah... enak sekali... jadi
terasa segar tubuh ini
karena es itu.
Setelah cuci piring, kemudian
aku duduk di sofa, di ruang
tengah sambil nonton MTV,
lama kelamaan bosan juga.
Habis di rumah tidak ada
siapa-siapa, adikku belum
pulang, orang tua juga masih
nanti sore. Pembantu tidak
punya. Akhirnya aku
melangkah masuk ke kamar
dan kuhidupkan kipas angin,
kuraih majalah hiburan yang
kemarin baru kubeli. Kubolak-
balik halaman demi halaman,
dan akhirnya aku terhanyut.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi,
aku segera beranjak ke
depan untuk membuka pintu.
Sesosok makhluk cantik
berambut panjang berdiri di
sana. Sekilas kulihat
wajahnya, sepertinya aku
pernah lihat dan begitu
familiar sekali, tapi siapa ya..?
"Cari siapa Mbak..?" tanyaku
membuka pembicaraan.
"Ehm... bener ini Jl. Garuda
no.20, Mas..?" tanya cewek
itu.
"Ya bener disini, tapi Mbak
siapa ya..? dan mau ketemu
dengan siapa..?" tanyaku lagi.
"Maaf Mas, kenalkan... nama
saya Rika. Saya dapat alamat
ini dari temen saya. Mas yang
namanya Adi ya..?" sambil
cewek itu mengulurkan
tangan untuk bersalaman.
Segera kusambut, aduuuh...
halus sekali tanganya.
"Eng... iya, emangnya temen
Mbak siapa ya..? kok bisa tau
alamat sini..?" tanyaku.
"Anu Mas, saya dapat alamat
ini dari Bimo, yang katanya
temennya Mas Adi waktu SMA
dulu..." jelas cewek itu.
Sekilas aku teringat kembali
temanku, Bimo, yang dulu
sering main kemana-mana
sama aku.
"Oooh... jadi Mbak Rika ini
temennya Bimo, ayo silahkan
masuk... maaf tadi saya
interogasi dulu."
Setelah kami berdua duduk di
ruang tamu baru aku
tersadar, ternyata Rika ini
memang dahsyat, benar-
benar cantik dan seksi. Dia
saat itu memakai mini skirt
dan kaos ketat warna ungu
yang membuat dadanya
tampak membusung indah,
ditambah wangi tubuhnya dan
paha mulus serta betis
indahnya yang putih bersih
menantang duduk di
hadapanku. Sekilas aku taksir
payudaranya berukuran 34B.
Setelah basa-basi sebentar,
Rika menjelaskan maksud
kedatangannya, yaitu ingin
tanya-tanya tentang jurusan
Public Relation di fakultas
Fisipol tempat aku kuliah.
Memang Rika ini adalah cewek
pindahan dari kota lain yang
ingin meneruskan di tempat
aku kuliah. Aku sendiri di
jurusan advertising, tapi
temanku banyak yang di
Public Relation (yang
kebanyakan cewek-cewek
cakep dan sering jadi model
buat mata kuliah fotografi
yang aku ambil), jadi sedikit
banyak aku tahu.
Kami pun cepat akrab dan
hingga terasa tidak ada lagi
batas di antara kami berdua,
aku pun sudah tidak duduk
lagi di hadapannya tapi sudah
pindah di sebelah Rika. Sambil
bercanda aku mencuri-curi
pandang ke wajah cantiknya,
paha mulusnya, betis
indahnya, dan tidak
ketinggalan dadanya yang
membusung indah yang
sesekali terlihat dari belahan
kaos ketatnya yang berleher
rendah. Terus terang saja si
kecil di balik celanaku mulai
bangun menggeliat, ditambah
wangi tubuhnya yang
membuat terangsang birahiku.
Aku mengajak Rika untuk
pindah ke ruang tengah
sambil nonton TV untuk
meneruskan mengobrol. Rika
pun tidak menolak dan
mengikutiku masuk setelah
aku mengunci pintu depan.
Sambil ngemil hidangan kecil
dan minuman yang kubuat,
kami melanjutkan ngobrol-
ngobrol. Sesekali Rika
mencubit lengan atau pahaku
sambil ketawa-ketiwi ketika
aku mulai melancarkan
guyonan-guyonan. Tidak lama,
adik kecilku di balik celana
tambah tegar berdiri. Aku
kemudian usul ke Rika untuk
nonton VCD saja. Setelah Rika
setuju, aku masukkan film
koleksiku ke dalam player.
Filmnya tentang drama
percintaan yang ada
beberapa adegan-adegan
ranjang. Kami berdua pun
asyik nonton hingga akhirnya
sampai ke bagian adegan
ranjang, aku lirik Rika
matanya tidak berkedip
melihat adegan itu.
Kuberanikan diri untuk
merangkul bahu Rika,
ternyata dia diam saja tidak
berusaha menghindar. Ketika
adegan di TV mulai tampak
semakin hot, Rika mulai
gelisah, sesekali kedua paha
mulusnya digerak-gerakkan
buka tutup. Wah, gila juga nih
cewek, seakan-akan dia
mengundang aku untuk
menggumulinya. Aku beranikan
diri untuk mengelus-elus
lengannya, kemudian
rambutnya yang hitam dan
panjang. Rika tampak
menikmati, terbukti dia
langsung ngelendot manja ke
tubuhku.
Kesempatan itu
tidak kusia-siakan, langsung
kupeluk tubuh hangatnya dan
kucium pipinya. Rika tidak
protes, malah tangannya
sekarang diletakkan di
pahaku, dan aku semakin
terangsang lalu kuraih
dagunya. Kupandang mata
bulat indahnya, sejenak kami
berpandangan dan entah
siapa yang memulai tiba-tiba,
kami sudah berpagutan
mesra. Kulumat bibir
bawahnya yang tebal nan
seksi itu dan Rika membalas,
tangannya yang satu
memeluk leherku, sedang
yang satunya yang tadinya di
pahaku sekarang sudah
mengelus-elus yuniorku yang
sudah super tegang di balik
celanaku.
Lidah kami saling bertautan
dan kecupan-kecupan bibir
kami menimbulkan bunyi cepak
cepok, yang membuat
semakin hot suasana dan
seakan tidak mau kalah
dengan adegan ranjang di TV.
Tanganku pun tidak mau
tinggal diam, segera kuelus
paha mulusnya, Rika pun
memberi kesempatan dengan
membuka pahanya lebar-
lebar, sehingga tanganku
dengan leluasa mengobok-
obok paha dalamnya sampai
ke selangkangan. Begitu
bolak-balik kuelus dari paha
lalu ke betis kemudian naik
lagi ke paha. Sambil terus
melumat bibirnya, tanganku
sudah mulai naik ke perutnya
kemudian menyusup terus ke
dadanya. Kuremas dengan
gemas payudaranya walau
masih tertutup kaos, Rika
merintih lirih. Lalu tanganku
kumasukkan ke dalam
kaosnya dan mulai meraba-
raba mencari BH-nya. Setelah
ketemu lalu aku meraih ke
dalam BH dan mulai meremas-
remas kembali buah dadanya,
kusentuh-sentuh putingnya
dan Rika mendesah. Seiring
dengan itu, tangan Rika juga
mengocok yuniorku yang
masih tertutup celana dalam,
dan mulai dengan ganas
menyusup ke dalam celana
dalam meraih yuniorku dan
kembali mengocok dan
mengelus.
Aku yang sudah mulai
terbakar birahi, kemudian
melepaskan kaos Rika dan
BH-nya hingga sekarang
nampak jelas payudaranya
yang berukuran 34B semakin
mengembang karena
rangsangan birahi.
Langsung aku caplok buah
dadanya dengan mulutku,
kujilat-jilat putingnya dan
Rika mendesis-desis
keenakan, "Sssh... aaauuh...
Mass Adiii... ehhh... ssshhh..."
sambil tangannya mendekap
kepalaku, meremas-remas
rambutku dan
membenamkannya ke
payudaranya lebih dalam.
Kutarik kepalaku dan
kubisikkan ke telinga Rika,
"Rika sayang, kita pindah ke
kamarku aja yuuk..! Aman kok
nggak ada siapa-siapa di
rumah ini selain kita berdua..."
Rika mengangguk, lalu segera
kupeluk dan kugendong dia
menuju ke kamar.
Posisi
gendongnya yaitu kaki Rika
memeluk pinggangku,
tangannya memeluk leherku
dan payudaranya menekan
keras di dadaku, sedangkan
tanganku memegang
pantatnya sehingga yuniorku
sekarang sudah menempel di
selangkangannya.
Sepanjang perjalanan menuju
kamar, kami terus saling
berciuman. Sesampainya di
kamar, kurebahkan tubuhnya
di tempat tidur, Rika tidak
mau melepaskan pelukan
kakinya di pinggangku
malahan sekarang mulai
menggoyang-goyangkan
pinggulnya.
"Sayang... sabar dong.., lepas
dulu dong rok sama celana
kamu..." kataku.
"Oke Mas... tapi Mas juga
harus lepas baju sama celana
Mas, biar adil..!" rajuk Rika.
Setelah kulepas baju dan
celanaku hingga telanjang
bulat dan yuniorku sudah
mengacung keras tegak ke
atas, Rika yang juga sudah
telanjang bulat kembali
merebahkan diri sambil
mengangkangkan pahanya
lebar-lebar, hingga kelihatan
bibir vaginanya yang merah
jambu itu.
Aku pun segera menindihnya,
tapi tidak buru-buru
memasukkan yuniorku ke
vaginanya, kembali aku kecup
bibirnya dan kucaplok dan
jilat-jilat payudara serta
putingnya. Jilatanku turun ke
perut terus ke paha
mulusnya kemudian ke betis
indahnya naik lagi ke paha
dalamnya hingga sampai ke
selangkangannya.
"Auuww... Mas Adiiii... ehhmm...
shhh... enaaaakkk Masss..."
ceracau Rika sambil kepalanya
menggeleng-geleng tidak
karuan dan tangannya
mencengkeram sprei ketika
aku mulai menjilati bibir
vaginanya, terus ke dalam
memeknya dan di klitorisnya.
Dengan penuh nafsu, terus
kujilati hingga akhirnya tubuh
Rika menegang, pahanya
mengempit kepalaku,
tangannya menjambak
rambutku dan Rika berteriak
tertahan. Ternyata dia telah
mencapai orgasme
pertamanya, dan terus
kujilati cairan yang keluar
dari lubang kenikmatannya
sampai habis.
Aku bangun dan melihat Rika
yang masih tampak
terengah-engah dan
memejamkan mata
menghayati orgasmenya
barusan. Kukecup bibirnya,
dan Rika membalas, lalu aku
menarik tangannya untuk
mengocok penisku. Aku
rebahkan tubuhku dan Rika
pun mengerti kemauanku, lalu
dia bangkit menuju ke
selangkanganku dan mulai
mengemut penisku.
"Oooh... Rik... kamu pinter
banget sih Rik..." aku memuji
permainannya.
Kira-kira setengah jam Rika
mengemut penisku. Mulutnya
dan lidahnya seakan-akan
memijat-mijat batang penisku,
bibirnya yang seksi kelihatan
semakin seksi melumati
batang dan kepala penisku.
Dihisapnya kuat-kuat ketika
Rika menarik kepalanya
sepanjang batang penis
menuju kepala penisku
membuatku semakin merem-
melek keenakan.
Setelah bosan, aku kemudian
menarik tubuh Rika dan
merebahkannya kembali ke
tempat tidur, lalu kuambil
posisi untuk menindihnya. Rika
membuka lebar-lebar
selangkangannya, kugesek-
gesekkan dulu penisku di bibir
vaginanya, lalu segera
kumasukkan penisku ke dalam
lubang senggamanya.
"Aduuh Mas... sakiiit... pelan-
pelan aja doong... ahhh..." aku
pun memperlambat masuknya
penisku, sambil terus sedikit-
sedikit mendorongnya masuk
diimbangi dengan gerakan
pinggul Rika.
Terlihat sudut mata Rika
basah oleh air matanya
akibat menahan sakit. Sampai
akhirnya, "Bleeesss..."
masuklah semua batang
penisku ke dalam liang
senggama Rika.
"Rika sayang, punya kamu
sempit banget sih..? Tapi enak
lho..!" Rika cuma tersenyum
manja.
"Mas juga, punya Mas besar
gitu maunya cari yang
sempit-sempit, sakit kaan..!"
rajuk Rika.
Aku ketawa dan mengecup
bibirnya sambil mengusap air
matanya di sudut mata Rika
sambil merasakan enaknya
himpitan kemaluan Rika yang
sempit ini. Setelah beberapa
saat, aku mulai
menggerakkan penisku maju
mundur dengan pelan-pelan.
"Aaah... uuuhhh... oooww...
shhh... ehhmmm..." desah Rika
sambil tangannya memeluk
erat bahuku.
"Masih sakit Sayaaang..?"
tanyaku.
"Nggak Mas... sedikiiitt...
auuoohhh... shhh... enn..
ennnaakk.. Mas... aahh..."
jawab Rika.
Mendengar itu, aku pun
mempercepat gerakanku, Rika
mengimbangi dengan
goyangan pinggulnya yang
dahsyat memutar ke kiri dan
ke kanan, depan belakang,
atas bawah. Aku hanya bisa
merem melek sambil terus
memompa, merasakan
enaknya goyangan Rika. Tidak
lama setelah itu, kurasakan
denyutan teratur di dinding
vagina Rika, kupercepat
goyanganku dan kubenamkan
dalam-dalam penisku.
Tanganku terus meremas-
remas payudaranya. Dan
tubuh Rika kembali menegang,
"Aaah... Masss Adiiii... teruuus
Maass... jangan berentiii...
oooh... Maasss... aaahhh...
akuuuu mauuu keluaaar...
aaawww..."
Dan, "Cret... cret... crettt..."
kurasakan cairan hangat
menyemprot dari dalam liang
senggama Rika membasahi
penisku.
Kaki Rika pun memeluk
pinggangku dan menarik
pinggulku supaya lebih dalam
masuknya penisku ke dalam
lubang kenikmatannya. Ketika
denyutan-denyutan di dinding
vagina Rika masih terasa dan
tubuh Rika menghentak-
hentak, aku merasa aku juga
sudah mau keluar.
Kupercepat gerakanku dan,
"Aaah... Rikaaa... aku mau
keluar Sayaaang..." belum
sempat aku menarik penisku
karena kaki Rika masih
memeluk erat pinggangku,
dan, "Crooot... crooot...
crooott..." aku keluar di dalam
kemaluan Rika.
"Aduuhhh enakkknyaaa..."
Dan aku pun lemas menindih
tubuh Rika yang masih terus
memelukku dan menggoyang-
goyangkan pinggulnya.
Aku pun bangkit, sedangkan
penisku masih di dalam liang
senggama Rika dan kukecup
lagi bibirnya.
Tiba-tiba, "Greeekkk..." aku
dikejutkan oleh suara pintu
garasi yang dibuka dan suara
motor adikku yang baru
pulang.
Aku pun cepat-cepat bangun
dan tersadar. Kulihat
sekeliling tempat tidurku, lho...
kok... Rika hilang, kemana tuh
cewek..? Kuraba penisku, lho
kok aku masih pake celana
dan basah lagi. Kucium
baunya, bau khas air mani.
Kulihat di pinggir tempat tidur
masih terbuka majalah
hiburan khusus pria yang
kubaca tadi. Di halaman 68, di
rubrik wajah, kulihat wajah
seorang cewek cantik yang
tidak asing lagi yang baru
saja kutiduri barusan, yaitu
wajah Rika yang
menggunakan swimsuit di
pinggir kolam renang.
Yaaa ampuun... baru aku
sadar, pengalaman yang
mengenakkan tadi bersama
Rika itu ternyata cuma mimpi
toh. Dan Rika yang kutiduri
dalam mimpiku barusan adalah
cover girl cantik dan seksi
majalah yang kubaca sebelum
aku tertidur tadi, yang di
majalah dia mengenakan
swimsuit merah. Aku pun
segera beranjak ke kamar
mandi membersihkan diri. Di
dalam kamar mandi aku
ketawa sendiri dalam hati
mengingat-ingat mimpi enak
barusan. Gara-gara
menghayal yang tidak-tidak,
jadinya mimpi basah deeh.
Sekretaris Cantik Dan Nikmat
12:02 PM
No comments
Sekretaris Cantik
Fabiola, yang biasa dipanggil Febby, seorang wanita cantik berusia 25 tahun.
Febby bekerja disalah satu perusahaan pariwisata yang cukup terkenal sebagai sekretaris.
Tubuh Febby cukup sintal dan berisi, didukung dengan sepasang gunung kembar berukuran 36B serta wajah yang cantik, membuat setiap pria pasti meliriknya, setiap kali ia berjalan.
Seperti biasa setiap hari Febby pergi ke kantornya di bilangan Roxi Mas, yang tanpa disadarinya ia dibuntuti sekelompok pemuda iseng yang hendak menculiknya.
Sudah beberapa hari para pemuda itu mempelajari kebiasaan Febby pergi dan pulang kantor. Dan hari itu mereka sudah menyusun rencana yang matang untuk menculik Febby. Tiba-tiba dijalan yang sepi taksi yang ditumpangi Febby dicegat secara tiba-tiba, dan sambil mengancam sopir taksinya, mereka langsung menyeret Febby masuk kedalam mobil mereka, dan tancap gas keras-keras, hingga akhirnya mobil mereka larikan kearah pinggir kota, dimana teman-teman mereka yang lain sudah menunggu disebuah rumah yang sudah dipersiapkan untuk 'mengerjai' Febby.
Didalam mobil Febby diapit oleh dua orang pemuda berkulit hitam, sedangkan yang dua lagi duduk dikursi depan. Febby sudah gemetaran karena takut, dan benar-benar tidak berdaya ketika dua orang yang mengapitnya memegang-megang tubuhnya yang sintal dan putih itu. Dua pasang tangan hitam bergentayangan disekujur tubuhnya, yang kebetulan pada hati itu Febby mengenakan rok lebar sebatas lutut, dengan atasan blouse putih krem yang agak tipis, hingga bra Wacoal hitam yang dikenakannya lumayan terlihat jelas dari balik blouse tersebut.
Dengan leluasa disepanjang jalan tangan-tangan jahil tertersebut bergentayangan dibalik rok Febby sambil meremas-remas paha putih mulus tersebut, hingga akhirnya mereka tiba dirumah tersebut, dan mobil langsung dimasukkan kedalam garasi dan rolling doorpun langsung ditutup rapat-rapat. Febby yang sudah terikat tangan dan kakinya, serta mulut tersumpal dan mata ditutup saputangan digendong masuk kedalam ruang tamu, dan didudukkan disofa yang cukup lebar.
Ikatan tangan, kaki, mulut dan mata Febby dibuka, dan alangkah terkejutnya ia sekitar tiga puluh pemuda yang hanya memakai cawat memandanginya dengan penuh nafsu seks. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Febby pun mulai dikerjai oleh mereka. Febby yang sudah tidak berdaya itu hanya bisa duduk bersandar di sofa dengan lemas ketika salah seorang lelaki mulai membuka kancing blouse-nya satu persatu hingga blouse putih tersebut dicopot dari tubuh sintalnya itu.
Beberapa orang lagi berusaha membuka rok merah Febby hingga Febby pun akhirnya hanya memakai bra hitam serta celana dalam nylon berwarna hijau muda, dan membuat dirinya terlihat makin menggairahkan, dan spontan saja para pemuda berandal tersebut langsung terlihat ereksi dengan kerasnya. Celana dalam Febby pun langsung buru-buru dilepas dan menjadi rebutan untuk mereka.
Febby dipaksa duduk dengan mengangkang lebar-lebar, hingga vagina-nya yang ditumbuhi rambut-rambut halus itu terlihat dengan jelas, dan mereka pun bergantian menjilati serta menghisap-hisap bibir vagina Febby dengan nafsunya. Kepala mereka terlihat tenggelam diantara kedua pangkal paha Febby, sementara yang lainnya bergantian meremas-remas kedua gunung kembar Febby yang montok itu. Kop BH Febby diturunkan ke bawah hingga kedua gunung kembarnya muncul bergelayutan dengan indahnya, dan menjadi bulan-bulanan pemuas nafsu untuk mereka.
Tidak puas dengan hanya meremas-remas saja, beberapa orang mulai mencoba untuk mengisap-ngisap puting susu gunung kembar Febby yang ranum itu, hingga akhirnya Febby pun dipaksa oral seks untuk mereka. Bergantian mereka memaksa Febby untuk mengulum-ngulum batang penis mereka keluar masuk mulutnya. Kepala Febby dipegangi dari arah belakang hingga tidak bisa bergerak, sementara itu yang lain bergantian mengeluar-masukkan batang penis mereka dimulut Febby yang seksi itu hingga mentok kepangkal paha mereka.
Batang penis yang rata-rata panjangnya 17 senti itu terlihat masuk semua kedalam mulut Febby, hingga mencapai kerongkongannya. Tak ketinggalan Febby pun dipaksa untuk 'mencicipi' buah zakar mereka secara bergantian. Sepasang buah sakar tampak terlihat dikulum Febby hingga masuk semua kedalam mulutnya yang mungil itu. Wajah Febby yang cantik itu bergantian ditekan-tekan diselangkangan para pemuda berandal tersebut hingga buah sakar mereka masuk semua kedalam mulutnya.
Setelah puas dengan acara 'pemanasan' tersebut Febby pun dipaksa tiduran diatas kanvas diruang tamu tersebut dan dengan paha yang mengangkang lebar, batang penispun mulai keluar masuk vagina Febby yang masih 'rapat' itu, mereka dengan tidak sabarnya bergantian menjajal vagina Febby dengan batang penis mereka yang rata-rata panjang dan besar itu. Bagi yang belum kebagian jatah terpaksa memainkan-mainkan penisnya diwajah dan mulut Febby.
Beberapa orang dengan nafsunya memukul-mukulkan batang penisnya di wajah Febby sambil mendesah-desah dengan nafsu. Bosan dengan gaya tiduran, Febby dipaksa duduk di sofa lagi dengan paha mengangkang lebar dan kembali 'di embat' bergantian, sementara bibir Febby tetap sibuk dipaksa mengulum batang penis yang tampak mengkilat karena air liur Febby yang menempel di batang penis tersebut.
Sementara para pemuda yang mendapat giliran mengocok vagina Febby tampak sangat bersemangat sekali hingga bunyi batang penis yang keluar masuk vagina Febby terdengar sangat jelas. Hampir dua jam sudah Febby "dikerjain" dengan intensif oleh puluhan pemuda tersebut, hingga akhirnya satu persatu mulai berejakulasi. Tiga puluh pemuda mengantri Febby untuk berejakulasi diwajah Febby yang cantik itu.
Dimulai oleh empat orang berdiri mengelilingi Febby dengan batang penis menempel disekitar wajah Febby yang cantik. Sementara seorang lagi mengocok vagina Febby dengan nafsunya, hingga akhirnya ia tak tahan lagi dan mencabut batang penisnya dari vagina Febby, dan.. croott.. croott.. croott!! air mani muncrat mengenai sekujur wajah Febby, melihat hal tersebut yang lain pun tak mau ketinggalan dan bergantian mengocok-ngocok batang penisnya cepat-cepat diwajah dan mulut Febby, hingga berakhir dengan semprotan air mani diwajahnya. Bahkan tak sedikit mengeluarkan airmani nya didalam mulut Febby, lalu memaksa Febby untuk menelannya.
Sekitar dua puluh menit, wajah Febby dihujani 'air mani' yang kental itu, hingga Febby terlihat basah kuyub oleh sperma mulai dari rambut hingga gunung kembarnya terlihat mengkilat oleh basahnya sperma puluhan pemuda berandal tersebut.
Part II
Jam menunjukkan pukul jam satu siang, dan Febby pun baru selesai 'dikerjain' oleh mereka, dan terlihat lemas tak berdaya dengan muka yang masih belepotan sperma. Tiga orang pemuda membawa Febby kedalam kamar mandi yang terlihat sangat mewah, dan memandikan Febby dengan air hangat serta sabun cair yang sangat wangi. Febby disuruh tiduran sambil direndam air hangat, sementara ketiga pemuda tersebut bergantian menyabuni tubuh Febby yang putih sintal itu dengan bernafsu, sambil sesekali meremas-remas selangkangan dan gunung kembar Febby yang terasa licin oleh sabun tersebut. Hingga akhirnya ketiga pemuda tersebut sudah tidak tahan lagi dan Febby pun diperkosa lagi didalam kamar mandi itu.
Mereka mengeluarkan Febby dari bak rendam, dan dibawah pancuran air hangat Febby dipaksa nungging, dan dua pemuda bergantian menyetubuhi Febby dari arah belakang, sedangkan yang satunya mengeluarmasukkan batang penisnya di mulut Febby, sambil memegangi rambut Febby hingga kepala Febby tidak dapat bergerak. Setengah jam sudah Febby 'diobok-obok' didalam kamar mandi, dan diakhiri dengan meyemprotkan air mani masing-masing didalam mulut Febby, dan tiga porsi air mani itu dalam sekejap sudah pindah kedalam mulut Febby, dan sisa-sisa sperma masih terlihat berceceran disekitar wajah Febby yang putih itu.
Part III
Selesai dimandikan, Febby kembali didandani hingga terlihat sangat cantik. Bra hitamnya yang berukuran 36B itu kembali dipasangkan. Celana dalam nylon Febby sudah raib jadi rebutan, hingga vagina Febby dibiarkan terlihat, sementara beberapa pemuda berandal itu sibuk menjepretkan kamera digitalnya kearah Febby. Febby dipaksa berpose dengan berbagai gaya yang sensual, mulai dari adegan membuka bra nya sendiri hingga duduk mengangkang sambil memasukkan batangan ketimun kedalam vaginanya.
Puas mengambil berbagai pose Febby, seorang pemuda mengambil dua gelas minuman dari dalam kulkas dan sepotong hamburger untuk Febby. Dan betapa terkejutnya Febby ketika tahu bahwa dua gelas minuman tersebut adalah sperma yang sudah disimpan berhari-hari di dalam kulkas. Seorang pemuda lagi mengambil suntikan besar tanpa jarum. Febby dipaksa membuka mulut lebar-lebar, sementara salah seorang menyedot sperma dalam gelas tersebut dengan suntikan besar itu, kemudian menyuntikkannya kedalam mulut Febby, hingga tertelan langsung kedalam tenggorokkannya. Mereka dengan brutalnya bergantian menyuntikkan 'air mani basi' itu ke mulut Febby hingga habis satu gelas penuh. Masih sisa satu gelas lagi, dan hamburger untuk Febby pun diolesi penuh dengan sperma tersebut, dan Febby pun dipaksa makan hingga habis. Sisa sperma sebanyak setengah gelas terpaksa disedot Febby dengan sedotan hingga tandas tak bersisa.
Selesai 'memberi makan' Febby, mereka kembali mengantri Febby. Namun kali ini Febby tidak disetubuhi, mereka hanya memaksa Febby mengulum-ngulum batang penis mereka dimulut Febby, serta mengocok-ngocoknya dengan kedua tangan Febby yang lentik itu. Tiga puluh batang penis kembali bergantian dikulum-kulum Febby, sementara yang lainnya memaksa Febby menggenggam batang penisnya dengan kedua tangannya, yang lainnya lagi sibuk memain-mainkan alat kelaminnya diwajah dan rambut Febby. Hingga akhirnya Febby kembali dihujani puluhan porsi sperma segar di wajah dan mulutnya. Pertama kali sperma muncrat dari lubang penis tepat didepan wajah Febby hingga tepat mengenai dahi hingga bibir Febby, yang lainnya pun ikut menyusul hingga puluhan semprotan sperma berhamburan diseluruh wajah Febby yang cantik itu. Sementara itu dua orang pemuda dari kiri dan kanan Febby menyendoki air mani yang bertetesan di wajah Febby, lalu menyuapinya hingga mereka puas.
Fabiola, yang biasa dipanggil Febby, seorang wanita cantik berusia 25 tahun.
Febby bekerja disalah satu perusahaan pariwisata yang cukup terkenal sebagai sekretaris.
Tubuh Febby cukup sintal dan berisi, didukung dengan sepasang gunung kembar berukuran 36B serta wajah yang cantik, membuat setiap pria pasti meliriknya, setiap kali ia berjalan.
Seperti biasa setiap hari Febby pergi ke kantornya di bilangan Roxi Mas, yang tanpa disadarinya ia dibuntuti sekelompok pemuda iseng yang hendak menculiknya.
Sudah beberapa hari para pemuda itu mempelajari kebiasaan Febby pergi dan pulang kantor. Dan hari itu mereka sudah menyusun rencana yang matang untuk menculik Febby. Tiba-tiba dijalan yang sepi taksi yang ditumpangi Febby dicegat secara tiba-tiba, dan sambil mengancam sopir taksinya, mereka langsung menyeret Febby masuk kedalam mobil mereka, dan tancap gas keras-keras, hingga akhirnya mobil mereka larikan kearah pinggir kota, dimana teman-teman mereka yang lain sudah menunggu disebuah rumah yang sudah dipersiapkan untuk 'mengerjai' Febby.
Didalam mobil Febby diapit oleh dua orang pemuda berkulit hitam, sedangkan yang dua lagi duduk dikursi depan. Febby sudah gemetaran karena takut, dan benar-benar tidak berdaya ketika dua orang yang mengapitnya memegang-megang tubuhnya yang sintal dan putih itu. Dua pasang tangan hitam bergentayangan disekujur tubuhnya, yang kebetulan pada hati itu Febby mengenakan rok lebar sebatas lutut, dengan atasan blouse putih krem yang agak tipis, hingga bra Wacoal hitam yang dikenakannya lumayan terlihat jelas dari balik blouse tersebut.
Dengan leluasa disepanjang jalan tangan-tangan jahil tertersebut bergentayangan dibalik rok Febby sambil meremas-remas paha putih mulus tersebut, hingga akhirnya mereka tiba dirumah tersebut, dan mobil langsung dimasukkan kedalam garasi dan rolling doorpun langsung ditutup rapat-rapat. Febby yang sudah terikat tangan dan kakinya, serta mulut tersumpal dan mata ditutup saputangan digendong masuk kedalam ruang tamu, dan didudukkan disofa yang cukup lebar.
Ikatan tangan, kaki, mulut dan mata Febby dibuka, dan alangkah terkejutnya ia sekitar tiga puluh pemuda yang hanya memakai cawat memandanginya dengan penuh nafsu seks. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Febby pun mulai dikerjai oleh mereka. Febby yang sudah tidak berdaya itu hanya bisa duduk bersandar di sofa dengan lemas ketika salah seorang lelaki mulai membuka kancing blouse-nya satu persatu hingga blouse putih tersebut dicopot dari tubuh sintalnya itu.
Beberapa orang lagi berusaha membuka rok merah Febby hingga Febby pun akhirnya hanya memakai bra hitam serta celana dalam nylon berwarna hijau muda, dan membuat dirinya terlihat makin menggairahkan, dan spontan saja para pemuda berandal tersebut langsung terlihat ereksi dengan kerasnya. Celana dalam Febby pun langsung buru-buru dilepas dan menjadi rebutan untuk mereka.
Febby dipaksa duduk dengan mengangkang lebar-lebar, hingga vagina-nya yang ditumbuhi rambut-rambut halus itu terlihat dengan jelas, dan mereka pun bergantian menjilati serta menghisap-hisap bibir vagina Febby dengan nafsunya. Kepala mereka terlihat tenggelam diantara kedua pangkal paha Febby, sementara yang lainnya bergantian meremas-remas kedua gunung kembar Febby yang montok itu. Kop BH Febby diturunkan ke bawah hingga kedua gunung kembarnya muncul bergelayutan dengan indahnya, dan menjadi bulan-bulanan pemuas nafsu untuk mereka.
Tidak puas dengan hanya meremas-remas saja, beberapa orang mulai mencoba untuk mengisap-ngisap puting susu gunung kembar Febby yang ranum itu, hingga akhirnya Febby pun dipaksa oral seks untuk mereka. Bergantian mereka memaksa Febby untuk mengulum-ngulum batang penis mereka keluar masuk mulutnya. Kepala Febby dipegangi dari arah belakang hingga tidak bisa bergerak, sementara itu yang lain bergantian mengeluar-masukkan batang penis mereka dimulut Febby yang seksi itu hingga mentok kepangkal paha mereka.
Batang penis yang rata-rata panjangnya 17 senti itu terlihat masuk semua kedalam mulut Febby, hingga mencapai kerongkongannya. Tak ketinggalan Febby pun dipaksa untuk 'mencicipi' buah zakar mereka secara bergantian. Sepasang buah sakar tampak terlihat dikulum Febby hingga masuk semua kedalam mulutnya yang mungil itu. Wajah Febby yang cantik itu bergantian ditekan-tekan diselangkangan para pemuda berandal tersebut hingga buah sakar mereka masuk semua kedalam mulutnya.
Setelah puas dengan acara 'pemanasan' tersebut Febby pun dipaksa tiduran diatas kanvas diruang tamu tersebut dan dengan paha yang mengangkang lebar, batang penispun mulai keluar masuk vagina Febby yang masih 'rapat' itu, mereka dengan tidak sabarnya bergantian menjajal vagina Febby dengan batang penis mereka yang rata-rata panjang dan besar itu. Bagi yang belum kebagian jatah terpaksa memainkan-mainkan penisnya diwajah dan mulut Febby.
Beberapa orang dengan nafsunya memukul-mukulkan batang penisnya di wajah Febby sambil mendesah-desah dengan nafsu. Bosan dengan gaya tiduran, Febby dipaksa duduk di sofa lagi dengan paha mengangkang lebar dan kembali 'di embat' bergantian, sementara bibir Febby tetap sibuk dipaksa mengulum batang penis yang tampak mengkilat karena air liur Febby yang menempel di batang penis tersebut.
Sementara para pemuda yang mendapat giliran mengocok vagina Febby tampak sangat bersemangat sekali hingga bunyi batang penis yang keluar masuk vagina Febby terdengar sangat jelas. Hampir dua jam sudah Febby "dikerjain" dengan intensif oleh puluhan pemuda tersebut, hingga akhirnya satu persatu mulai berejakulasi. Tiga puluh pemuda mengantri Febby untuk berejakulasi diwajah Febby yang cantik itu.
Dimulai oleh empat orang berdiri mengelilingi Febby dengan batang penis menempel disekitar wajah Febby yang cantik. Sementara seorang lagi mengocok vagina Febby dengan nafsunya, hingga akhirnya ia tak tahan lagi dan mencabut batang penisnya dari vagina Febby, dan.. croott.. croott.. croott!! air mani muncrat mengenai sekujur wajah Febby, melihat hal tersebut yang lain pun tak mau ketinggalan dan bergantian mengocok-ngocok batang penisnya cepat-cepat diwajah dan mulut Febby, hingga berakhir dengan semprotan air mani diwajahnya. Bahkan tak sedikit mengeluarkan airmani nya didalam mulut Febby, lalu memaksa Febby untuk menelannya.
Sekitar dua puluh menit, wajah Febby dihujani 'air mani' yang kental itu, hingga Febby terlihat basah kuyub oleh sperma mulai dari rambut hingga gunung kembarnya terlihat mengkilat oleh basahnya sperma puluhan pemuda berandal tersebut.
Part II
Jam menunjukkan pukul jam satu siang, dan Febby pun baru selesai 'dikerjain' oleh mereka, dan terlihat lemas tak berdaya dengan muka yang masih belepotan sperma. Tiga orang pemuda membawa Febby kedalam kamar mandi yang terlihat sangat mewah, dan memandikan Febby dengan air hangat serta sabun cair yang sangat wangi. Febby disuruh tiduran sambil direndam air hangat, sementara ketiga pemuda tersebut bergantian menyabuni tubuh Febby yang putih sintal itu dengan bernafsu, sambil sesekali meremas-remas selangkangan dan gunung kembar Febby yang terasa licin oleh sabun tersebut. Hingga akhirnya ketiga pemuda tersebut sudah tidak tahan lagi dan Febby pun diperkosa lagi didalam kamar mandi itu.
Mereka mengeluarkan Febby dari bak rendam, dan dibawah pancuran air hangat Febby dipaksa nungging, dan dua pemuda bergantian menyetubuhi Febby dari arah belakang, sedangkan yang satunya mengeluarmasukkan batang penisnya di mulut Febby, sambil memegangi rambut Febby hingga kepala Febby tidak dapat bergerak. Setengah jam sudah Febby 'diobok-obok' didalam kamar mandi, dan diakhiri dengan meyemprotkan air mani masing-masing didalam mulut Febby, dan tiga porsi air mani itu dalam sekejap sudah pindah kedalam mulut Febby, dan sisa-sisa sperma masih terlihat berceceran disekitar wajah Febby yang putih itu.
Part III
Selesai dimandikan, Febby kembali didandani hingga terlihat sangat cantik. Bra hitamnya yang berukuran 36B itu kembali dipasangkan. Celana dalam nylon Febby sudah raib jadi rebutan, hingga vagina Febby dibiarkan terlihat, sementara beberapa pemuda berandal itu sibuk menjepretkan kamera digitalnya kearah Febby. Febby dipaksa berpose dengan berbagai gaya yang sensual, mulai dari adegan membuka bra nya sendiri hingga duduk mengangkang sambil memasukkan batangan ketimun kedalam vaginanya.
Puas mengambil berbagai pose Febby, seorang pemuda mengambil dua gelas minuman dari dalam kulkas dan sepotong hamburger untuk Febby. Dan betapa terkejutnya Febby ketika tahu bahwa dua gelas minuman tersebut adalah sperma yang sudah disimpan berhari-hari di dalam kulkas. Seorang pemuda lagi mengambil suntikan besar tanpa jarum. Febby dipaksa membuka mulut lebar-lebar, sementara salah seorang menyedot sperma dalam gelas tersebut dengan suntikan besar itu, kemudian menyuntikkannya kedalam mulut Febby, hingga tertelan langsung kedalam tenggorokkannya. Mereka dengan brutalnya bergantian menyuntikkan 'air mani basi' itu ke mulut Febby hingga habis satu gelas penuh. Masih sisa satu gelas lagi, dan hamburger untuk Febby pun diolesi penuh dengan sperma tersebut, dan Febby pun dipaksa makan hingga habis. Sisa sperma sebanyak setengah gelas terpaksa disedot Febby dengan sedotan hingga tandas tak bersisa.
Selesai 'memberi makan' Febby, mereka kembali mengantri Febby. Namun kali ini Febby tidak disetubuhi, mereka hanya memaksa Febby mengulum-ngulum batang penis mereka dimulut Febby, serta mengocok-ngocoknya dengan kedua tangan Febby yang lentik itu. Tiga puluh batang penis kembali bergantian dikulum-kulum Febby, sementara yang lainnya memaksa Febby menggenggam batang penisnya dengan kedua tangannya, yang lainnya lagi sibuk memain-mainkan alat kelaminnya diwajah dan rambut Febby. Hingga akhirnya Febby kembali dihujani puluhan porsi sperma segar di wajah dan mulutnya. Pertama kali sperma muncrat dari lubang penis tepat didepan wajah Febby hingga tepat mengenai dahi hingga bibir Febby, yang lainnya pun ikut menyusul hingga puluhan semprotan sperma berhamburan diseluruh wajah Febby yang cantik itu. Sementara itu dua orang pemuda dari kiri dan kanan Febby menyendoki air mani yang bertetesan di wajah Febby, lalu menyuapinya hingga mereka puas.
Subscribe to:
Posts (Atom)





.jpg)











.jpg)













